I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
BPJS Ketenagakerjaan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan) atau yang sering disebut dengan BPJamsostek yang terbentuk pada tahun 1947 merupakan badan hukum publik yang dibawahi oleh pemerintah untuk menyelenggarakan perlindungan jaminan sosial bagi seluruh tenaga kerja Indonesia. BPJS Ketenagakerjaan menawarkan lima program diantaranya Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Visi dalam perusahaan ini adalah untuk mewujudkan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang Terpercaya, Berkelanjutan dan dapat Menyejahterakan Seluruh Pekerja Indonesia baik yang bekerja dalam negeri, luar negeri dan jasa konstruksi. Selaras dengan visinya, misi perusahaan ini melindungi, melayani dan mensejahterkahan pekerja dan para keluarga pekerja, memberikan rasa aman, nyaman dan mudah untuk meningkatkan taraf hidup dan produktivitas pekerja serta memberikan konstribusi dalam pembangunan dan perekonomian bangsa dengan tata kelola yang baik.
Sehubungan dengan visi misi perusahaan, Account Representative merupakan salah satu unit kerja yang berifungsi untuk mengakuisisi peserta dan melakukan sosialisai. Sosialisasi dilakukan untuk mengenalkan program dan manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan sendiri. Diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2021 yang berbunyi bahwa menjadi sebuah hak bagi badan usaha untuk mendaftarkan para pekerjanya untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Saat ini jumlah pekerja dibidang perdagangan yang terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan tergolong masih rendah. Fenomena tersebut didasari dengan faktor internal. Faktor internal terkait yang diantaranya Persepsi Individu, Pendapatan, Motivasi dan Kurangnya informasi terkait program BPJS Ketenagakerjaan. Apabila tidak ditindak lanjuti, fenomena tersebut dapat menimbulkan permasalahan seperti meningkatnya angka kematian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja, kualitas hidup tenaga kerja yang tidak terjamin, dan juga penurunan kualitas hidup secara ekonomi pada anggota keluarganya.
1.2. Perumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang di kemukakan oleh penulis dalam pelaksanan BPJS Ketenagakerjaan; dalam hal ini penulis merumuskan 2 (dua) masalah, yakni;
1. Bagaimana implementasi dan mutu BPJS Ketenagakerjaan terhadap warga?
2. Apa manfaat BPJS Ketenagakerjaan bagi warga negara?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyeleksi “Calon Anggota Direksi” BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, memperluas wawasan berkaitan tata cara kelola BPJS Ketenagakerjaan yang telah dicanangkan oleh pemerintah untuk mempermudah bagi warga Negara, terutama bagi pekerja upah, pekerja non upah dan jasa kontruksi.
II. PEMBAHASAN
1.1. Mutu Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan
Mutu pelayanan BPJS Ketenagakerjaan bagi warga negara Indonesia dan asing dinilai berdasarkan hak yang sama dalam jaminan sosial, namun aksesnya bergantung pada status kepegawaian dan kepesertaan. Warga negara asing yang bekerja di Indonesia sekurang-kurangnya enam bulan wajib menjadi peserta BPJS, sementara warga negara asing lainnya atau bahkan warga negara Indonesia bisa mendaftar secara mandiri atau melalui perusahaan mereka.
Mutu pelayanan didukung oleh program jaminan sosial yang komprehensif, seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JP). Selain itu, ada juga program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Untuk menjaga mutu, BPJS Ketenagakerjaan melakukan pengendalian mutu dan monitoring rutin terhadap fasilitas kesehatan yang bekerja sama .
Mutu pelayanan BPJS Ketenagakerjaan WNI dan Warga Asing dapat dilihat pada table di bawah ini;
Warga Negara Indonesia Warga Negara Asing Pertimbangan Mutu
• Hak yang Sama: Warga negara Indonesia memiliki hak yang sama terhadap jaminan sosial, baik di dalam maupun luar negeri.
• Kepesertaan: Semua pekerja di Indonesia, baik formal, informal, maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI), wajib menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
• Manfaat: Warga negara Indonesia mendapatkan manfaat seperti JKK, JKM, JHT, JP, dan JKP.
• Program khusus:
• Program khusus seperti program untuk PMI memberikan perlindungan paripurna kepada para pekerja migran Indonesia, baik yang belum, sudah, maupun telah kembali dari penempatan kerja. • Kepesertaan: Warga negara asing yang bekerja di Indonesia sekurang-kurangnya enam bulan wajib menjadi peserta BPJS.
• Manfaat: Warga negara asing yang terdaftar melalui perusahaan atau menjadi peserta sesuai syarat yang telah ditetapkan oleh BPJS Ketenagakerjaan.
• Program khusus: Program khusus untuk PMI dapat diakses oleh warga negara asing yang berstatus sebagai PMI, karena program ini mencakup berbagai manfaat untuk melindungi pekerja migran di luar negeri.
• Monitoring mutu:
• BPJS Ketenagakerjaan melakukan monitoring dan evaluasi rutin terhadap fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga. Kendali mutu:
BPJS Ketenagakerjaan secara aktif melakukan pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan untuk memastikan kualitasnya.
Fasilitas: BPJS Ketenagakerjaan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap fasilitas kesehatan yang bekerja sama secara berkala, meliputi persyaratan administratif, operasional, sarana prasarana, dan kualitas pelayanan.
Perpanjangan perjanjian: Hasil monitoring dan evaluasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperpanjang perjanjian kerja sama dengan fasilitas kesehatan, yang bertujuan untuk memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga.
1.2. Tugas BPJS Ketenagakerjaan
Tugas BPJS Ketenagakerjaan adalah untuk mengelola program jaminan sosial bagi para pekerja di Indonesia. Berikut ini beberapa tugas utama BPJS Ketenagakerjaan: 1. Pendaftaran dan Manajemen Peserta: Mendaftarkan para pekerja agar terdaftar dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan, serta mengelola data dan kontribusi peserta. 2. Pembayaran Jaminan Sosial: Mengelola dana dan melakukan pembayaran jaminan sosial, termasuk jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, dan jaminan pensiun. 3. Pemberian Pelayanan Kesejahteraan: Memberikan pelayanan terkait klaim dan manfaat jaminan sosial kepada peserta yang memenuhi syarat. 4. Penyuluhan dan Edukasi: Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya perlindungan sosial di tempat kerja dan manfaat dari program BPJS Ketenagakerjaan. 5. Pengawasan dan Pengendalian: Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program jaminan sosial untuk memastikan keberlangsungannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 6. Pengembangan Program: Mengembangkan program jaminan sosial yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan tenaga kerja dan kemajuan ekonomi. BPJS Ketenagakerjaan berperan penting dalam menjaga kesejahteraan para pekerja di Indonesia melalui penyediaan perlindungan sosial yang komprehensif .
1.3. Program Kerja BPJS Ketenagakerjaan
Jaminan sosial di bidang ketenagakerjaan adalah sistem perlindungan sosial yang dirancang untuk memberikan keamanan finansial kepada pekerja dan keluarganya dalam situasi-situasi tertentu, seperti Jaminan hari tua, kecelakaan kerja, kematian, atau pensiun. Konsepnya adalah untuk memastikan bahwa pekerja memiliki akses ke perlindungan sosial yang memadai selama berkarier dan setelahnya. Beberapa elemen utama dari konsep jaminan sosial di bidang ketenagakerjaan meliputi: a. Program Jaminan Hari Tua (JHT) Program Jaminan Sosial merupakan program perlindungan yang bersifat dasar bagi tenaga kerja yang bertujuan untuk menjamin adanya keamanan dan kepastian terhadap risiko-risiko sosial ekonomi, dan merupakan sarana penjamin arus penerimaan penghasilan bagi tenaga kerja dan keluarganya akibat dari terjadinya resiko-resiko sosial dengan pembiayaan yang terjangkau oleh pengusaha dan tenaga kerja. Resiko sosial ekonomi yang ditanggulangi oleh program tersebut terbatas saat terjadi peristiwa kecelakaan, sakit, hamil, bersalin, cacat, hari tua dan meninggal dunia, yang mengakibatkan berkurangnya atau terputusnya penghasilan tenaga kerja dan/atau membutuhkan perawatan medis Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial ini menggunakan mekanisme Asuransi Sosial. Program Jaminan Hari Tua ditujukan sebagai pengganti terputusnya penghasilan tenaga kerja karena meninggal, cacat, atau hari tua dan diselenggarakan dengan sistem tabungan hari tua. Program Jaminan Hari Tua memberikan kepastian penerimaan penghasilan yang dibayarkan pada saat tenaga kerja mencapai usia 56 tahun atau telah memenuhi persyaratan tertentu. b. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Kecelakaan kerja termasuk penyakit akibat kerja merupakan resiko yang harus dihadapi oleh tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya. Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh penghasilan yang diakibatkan oleh adanya resiko-resiko sosial seperti kematian atau cacat karena kecelakaan kerja baik fisik maupun mental, maka diperlukan adanya jaminan kecelakaan kerja. Kesehatan dan keselamatan tenaga kerja merupakan tanggung jawab pengusaha sehingga pengusaha memiliki kewajiban untuk membayar iuran jaminan kecelakaan kerja yang berkisar antara 0,24%- 1,74% sesuai kelompok jenis usaha. Manfaat dari Jaminan Kecelakaan Kerja yaitu memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan pada saat dimulai berangkat bekerja sampai tiba kembali dirumah atau menderita penyakit akibat hubungan kerja. Iuran untuk program JKK ini sepenuhnya dibayarkan oleh perusahaan. c. Program Jaminan Kematian (JKM) Jaminan Kematian diperuntukkan bagi ahli waris dari peserta program BPJS Ketenagakerjaan yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang. d. Program Jaminan Pensiun (JP) Jaminan pensiun adalah jaminan sosial yang bertujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan/atau ahli warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Manfaat jaminan pensiun berupa sejumlah uang yang dibayarkan setiap bulan kepada peserta yang memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau kepada ahli waris bagi peserta yang meninggal dunia. e. Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), diperuntukan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat persoalan intern/ekstern perusahan, dalam hal ini pekerja diberhentikan sementara atau tetap/permanen. sehingga dengan adanya BPJS Ketenagakerjaan dapat memberikan jaminan yang pasti bagi pekerja .
1.4. Fungsi dan Manfaat BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan hukum yang disediakan untuk masyarakat dengan tujuan memberikan perlindungan sosial kepada seluruh pekerja di Indonesia dari risiko sosial ekonomi tertentu. Jaminan sosial ketenagakerjaan tidak hanya untuk pekerja formal, melainkan juga untuk pekerja non formal. Pekerja non formal masuk ke dalam kategori pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). Pekerjaan yang termasuk ke dalam pekerjaan non formal yaitu seperti wirausaha, freelancer, pekerja lepas.
Manfaat perlindungan dari program BPJS Ketenagakerjaan tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja, sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi maupun produktivitas kerja. Karena risiko sosial ekonomi itu bisa terjadi kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Risiko sosial ekonomi itu seperti kecelakaan dan kematian, sehingga perlu ada satu alat pengaman, supaya apabila terjadi risiko sosial ekonomi tadi tidak akan mengganggu kesejahteraan secara drastis. Cakupan program perlindungan ini adalah jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua .
BAB III
PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Setelah mempelajari dan memahami BPJS Ketenagakerjaan, Maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
• Perhitungan Dana Jaminan Hari Tua (JHT) pada BPJS Ketenagakerjaan prosesnya sering lambat, Sehingga peserta yang mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) nya harus menunggu lama.
• Sistem Informasi yang dirancang dapat mempermudah dalam melakukan perhitungan dana Jaminan Hari Tua (JHT) berdasarkan persen yang telah ditetapkan di BPJS Ketenagakerjaan.
• Dengan adanya Sistem Informasi Perhitungan Dana Jaminan Hari Tua (JHT) ini, semoga dapat mempermudah pekerja-pekerja di BPJS Ketenagakerjaan.
1.2. Saran
Saran adalah suatu pendapat yang disampaikan kepada seseorang, kelompok, organisasi atau instansi pemerintah dengan tujuan; agar dipertimbangkan, memperbaiki suatu kinerja dimasa yang akan datang. Dengan mengamati, memahami kinerja BPJS Ketenagakerjaan saat ini; sebagai masukan penulis memberikan saran yaitu:
• BPJS Ketenagakerjaan terus meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat dengan inovasi, kreatif, profesionalisme dan team work; untuk mencapai kinerja yang maksimal.
• Perlu ada pelatihan terhadap pekerja dalam mengoperasikan sistem informasi yang digunakan BPJS Ketenagakerjaan, untuk kelancaran dalam melaksanakan tugas masing-masing.
• Perlu ada sosialisasi yang bertahap kepada warga Negara, agar mamahami pentingnya BPJS Ketenagakerjaan
DAFTAR PUSTAKA
https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/assets/uploads/peraturan/PP_Nomor_6_Tahun_2025.pdf
diakses 15 November 2025
https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/download/Buku-Saku-PMI.pdf
diakses 15 November 2025
https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/download/Instruksi%20Presiden%20Nomor%202%20Tahun%202021%20tentang%20Optimalisasi%20Pelaksanaan%20Program%20Jaminan%20Sosial%20Ketenagakerjaan.pdf
diakses 15 November 2025
Senin, 09 Maret 2026
Mutu Pelayanan dan Perlindungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Kepada Warga Negara.
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
16.42.00
Jumat, 01 April 2016
Perjuangan Meraih Kesuksesan
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
00.22.00
“A brief note”
![]() |
| Ilustrasi |
Siapapun pasti ingin sukses. Karena dengan
kesuksesan, orang akan berpikir bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Menuju
puncak kebahagian merupakan impian semua orang. Setiap orang berbeda dalam mengartikan
sukses dalam hidupnya. Apa arti sukses menurut Anda? banyak orang yang
menganggap arti sukses sebagai pada saat kita wisuda, pada saat naik jabatan,
atau pada saat menerima penobatan sebagai orang teladan, orang terpandai. Boleh
dikatakan sukses, tetapi menurut saya itu bukan akhir dari sukses tetapi merupakan
bagian dari sukses.
Kita tekad menjadi sukses dalam pengertian ini
adalah karena sebuah keputusan yang kita buat untuk melakukan hal yang tepat
mulai hari ini, mulai saat ini dan detik ini, dengan keputusan yang kita buat
untuk melakukan suatu kegiatan secara rutin dan konsisten, maka saya yakin pada
suatu hari kita akan di beri penghargaan sebagai orang sukses terhadap apa yang
sedang kita lakukan tersebut. Sukses itu bukan hasil akhir, sukses itu
adalah hasil perjuangan selama kita masih hidup (proses). Maka kesuksesan yang sesungguhnya dapat peroleh akan datang;
bila kita sudah bekerja keras dan sabar serta meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa.
Dalam perjuangan meraih kesuksesan tentunya banyak
hal yang akan kita alami dan lewati, baik; suka-duka, lapar-haus bahagia, ke
kampus jalan kaki mandi keringat dan lainnya. Dan hal ini tentunya sebagai
manusia harus lewati dinamika kehidupan ini, sebab dalam sejarah hidup Manusia,
tidak pernah ada kesuksesan itu datang sendiri tanpa perjuangan.
Para Ahli telah mendefinisikan arti sukses, Namun,
bagi saya lebih menarik arti kesuksesan yang dikemukakan oleh D. Paul Reilly dalam bukunya Succes is
simple (1977) mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang
berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga. Karena
sekecil apapun yang kita usaha, tentunya sangat berharga bagi banyak orang di
masa yang akan datang.
Saya mengulas sedikit tentang pengalaman hidup dan harapannya para pembaca dapat memaknai arti dari tulisan ini; agar lebih mengenal apa yang dimaksud dengan kesuksesan itu. Dan sebagai akhir dari catatan singkat ini saya mendefininisikan “Sukses itu bukan suatu tujuan akhir dengan
kualitas seadanya, tetapi sebagai suatu proses yang harus di lakukan tahap demi
tahap, dan hari demi hari”. Dengan demikian, Apa yang menjadi dambaan bagi
kita akan menuai hasilnya di kemudian hari, sesuai dengan hasil perjuangan kita.
Kamis, 31 Maret 2016
Revolusi Kuba
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
08.01.00
Kuba adalah negara pulau yang
terletak di Teluk Meksiko, Laut Karibia. Kuba merupakan negara yang terkenal
dengan cerutunya. Kuba sebelumnya juga lama menjadi jajahan Spanyol. Pada masa
Perang Dingin, Kuba yang letaknya sangat strategis juga tidak luput dari
incaran perluasan pengaruh dan ideologi negara adidaya. Kuba merupakan negara
republik komunis pertama yang berada di belahan bumi Barat. Letak Kuba yang
dekat dengan Negara Amerika Serikat menjadi ancaman serius bagi Amerika
Serikat.
Kuba sebelum
Perang Dunia II
Kuba pertama kali ditemukan oleh Columbus, orang
Spanyol pada tahun 1492. Seperti halnya tempat-tempat lain yang ditemukan orang
Eropa dalam masa penjelajahan samudra, yaitu diakui sebagai miliknya, begitu
pula dengan nasib Kuba. Columbus segera mengklaim bahwa Kuba adalah milik
Spanyol. Sejak saat itu, Kuba menjadi koloni Spanyol. Pada sekitar tahun
1868–1878 di Kuba timbul gerakan menuntut kemerdekaan. Perang Kemerdekaan tahap
kedua muncul pada tahun 1895 dengan dipimpin Jose Marti. Amerika Serikat
mendukung gerakan itu setelah kapal perangnya Marine yang dikirim untuk
melindungi warga negaranya di Kuba meledak misterius. Amerika Serikat
menganggap itu merupakan sabotase yang dilakukan Spanyol. Oleh karena itu,
Amerika Serikat membantu Kuba menyingkirkan Spanyol. Wilayah Kuba sampai tahun
1902 mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Pada tahun 1933 kelompok
revolusioner yang dipimpin oleh Fulqencio Batista berhasil mengambil alih
pemerintahan di Kuba. Batista memerintah Kuba secara diktator. Pada masa
pemerintahan Batista, korupsi makin merajalela.
Kuba setelah
Perang Dunia II
Kondisi rakyat Kuba yang sangat memprihatinkan
pada masa pemerintahan Batista, menggugah semangat salah seorang anak bangsa
untuk memperbaikinya. Fidel Castro seorang putra tuan tanah kaya raya tidak
tahan melihat penderitaan rakyat Kuba. Pada tahun 1953 Castro mencoba melakukan
kudeta, tetapi gagal. Akibatnya, Castro dijatuhi hukuman lima belas tahun
penjara.
Namun, baru menjalani hukuman selama dua tahun,
Castro telah dibebaskan. Penjara tidak membuat Castro jera dalam memperjuangkan
keinginannya. Setelah keluar dari penjara Castro kembali menghimpun kekuatan.
Castro melatih pengikutnya di dekat kota Meksiko. Pada tahun 1956, Castro
bersama para pengikut setianya kembali berusaha menggulingkan kekuasaan
Presiden Batista. Selama hampir tiga tahun Castro berusaha merebut kekuasaan di
Kuba. Pada tahun 1959 Batista meninggalkan Kuba dan digantikan Castro. Fidel
Castro sebenarnya bukan seorang komunis. Hal itu seperti pernyataannya yang
mengatakan, “Revolusi kita bukan berwarna merah, melainkan hijau zaitun.”
Kata-kata Castro itu menunjuk pada warna seragam yang ia pakai bersama
pengikutnya. Bahkan, Castro juga mengutuk komunis dengan konsepnya yang
totaliter. Castro juga berusaha membersihkan tindakannya yang dianggap
disponsori komunis dengan berpidato di Universitas Princeton, Amerika Serikat.
Dalam pidato tersebut, Castro menyatakan bahwa, “... bertentangan dengan pola
Revolusi Rusia dan model Marxis bahwa di Kuba tidak berdasarkan perjuangan
kelas .... Revolusi Kuba juga tidak berniat meniadakan kepemilikan swasta.”
Namun, pemerintah Amerika Serikat tetap memandang bahwa revolusi yang
dikobarkan Castro disponsori pihak komunis. Hal ini akibat tindakan Castro yang
banyak mengubah kehidupan Kuba yang mendekati slogan komunis, sama rasa sama
rata. Castro banyak membangun sekolah dan rumah bagi orang yang tidak mampu.
Pemerintah Kuba juga mulai mengontrol semua penerbitan surat kabar serta siaran
radio dan televisi. Tindakan Castro makin lama mengkhawatirkan pemerintah
Amerika Serikat. Hal itu disebabkan Castro makin berani menasionalisasi
perusahaan-perusahaan asing yang berada di Kuba.
Akibatnya, Amerika Serikat mengambil tindakan
tegas, yaitu menghentikan hubungan dengan Kuba pada tahun 1961. Menghadapi
kenyataan itu Fidel Castro selanjutnya segera menjalin hubungan dengan
negara-negara komunis, seperti Cina dan Uni Soviet. Dari negara-negara
tersebut, Kuba berharap agar mereka bersedia memberi bantuan ekonomi guna
melaksanakan dan melanjutkan pembangunan.
Pemerintah Amerika Serikat yang mendapati
kenyataan bahwa Kuba telah masuk blok komunis makin khawatir atas keselamatan
negaranya. Hal itu beralasan karena jarak Kuba dengan Amerika Serikat tidak
lebih dari 10 mil. Atas kekhawatiran itu, pemerintah Amerika Serikat berniat
menggulingkan pemerintahan Fidel Castro yang prokomunis. Untuk mencapai maksud
itu, pemerintah Amerika Serikat akan menggunakan para pelarian Kuba yang
tinggal di Amerika Serikat. Dari orang-orang pelarian Kuba itu, Amerika Serikat
berharap dapat menguasai Teluk Babi yang dapat dipakai sebagai lompatan untuk
menundukkan Havana, ibu kota Kuba. Dinas intelejen Amerika Serikat (CIA)
bertugas melatih orang-orang pelarian Kuba agar berhasil dalam misinya. Sekitar
1.200 orang pelarian Kuba di Amerika Serikat berhasil dikumpulkan dan dilatih
kemiliteran.
Presiden baru Amerika Serikat, John Fietzgeerald
Kennedy juga menyetujui rencana penggulingan Fidel Castro melalui orang-orang
Kuba sendiri. Kennedy bahkan memerintahkan untuk memberi perlindungan dan
pengawalan dalam penyerbuan Teluk Babi melalui pelarian orang-orang Kuba
dilaksanakan. Peristiwa itu kemudian disebut The Bay Pig’s Episode atau Insiden
Teluk Babi. Namun, pada detik-detik terakhir penyerangan, Kennedy memerintahkan
membatalkan bantuan perlindungan dan pengawalan. Akibatnya mudah diduga,
pemerintah Kuba sangat mudah mematahkan penyerbuan orang-orang Kuba pelarian
itu. Atas Insiden tersebut, hubungan Kuba dan Amerika Serikat makin renggang.
Sementara itu, pemimpin Uni Soviet, Khruschev segera memanfaatkan situasi atas
insiden Teluk Babi tersebut dan begitu intensif mendekati Kuba. Ia menawarkan
paket bantuan ekonomi yang lebih besar lagi apabila Kuba bersedia mengizinkan
Uni Soviet membangun pangkalan militer dan menempatkan rudal nuklirnya di
wilayah tersebut. Ia berencana rudal-rudalnya akan dapat diarahkan ke Amerika
Serikat tanpa ada hambatan. Keinginan Uni Soviet tentu saja mendapat tantangan
dari Amerika Serikat. Presiden Kennedy menyatakan bahwa penempatan rudal Uni
Soviet di Kuba merupakan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Oleh karena
itu, pemerintah Amerika Serikat akan mengambil segala cara dan tindakan untuk
menggagalkannya. Salah satu tindakan Amerika Serikat dalam menggagalkan
pembangunan pangkalan militer dan rudal Uni Soviet adalah menghadang setiap
kapal Uni Soviet yang menuju ke Kuba. Tentu saja tindakan itu menimbulkan
krisis yang hampir membawa dunia dalam perang nuklir. Karena merasa belum
berimbang kekuatan militernya, akhirnya Uni Soviet membatalkan penempatan
pangkalan militer dan rudalnya di Kuba. Apalagi, Amerika Serikat juga berjanji
tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Kuba. Hubungan baik Kuba dengan
Amerika Serikat mulai membaik lagi pada tahun 1973 setelah kedua negara membuat
perjanjian mengenai pertukaran pembajak.
Pada tahun 1975 embargo ekonomi pada Kuba yang
dilakukan Amerika Serikat mulai dihapus. Namun, hubungan Amerika–Kuba memanas
lagi setelah pada akhir tahun 1975 Kuba mengirim pasukannya ke Angola. Dari
kejadian di Kuba itu, dua negara adidaya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet,
akhirnya juga menyadari betapa bahayanya apabila perang terbuka yang merembet
pada perang nuklir terjadi. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi terjadinya
perang nuklir dan akibatnya, kedua negara adidaya sepakat melakukan pembicaraan pengurangan senjata.
Rabu, 30 Maret 2016
IPMANAPANDODE Semarang dan Salatiga Merayakan Ibadah Paskah
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
02.29.00
![]() |
| Foto Ibadah Paskah/ Doc. Piyaiyepai |
Semarang, 29
Maret 2016. Sejumlah Pelajar dan Mahasiswa
yang tergabung dalam Organisasi Ikatan Pelajar–Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai
dan Deiyai yang mengenyam Pendidikan Kota Study Semarang dan Salatiga, Gelar
Ibadah Paskah di Sekretariat IPMANAPANDODE SEM-SAL, Semarang – Jawa Tengah.
Ibadah
Paskah Tahun 2016; dipandu oleh Tarina
Iyai. Dalam kata-kata pembukaannya, Ia mengajak seluruh anggota
IPMANAPANDODE SEM-SAL; bahwa Yesus mati dikayu salib demi umat Manusia. Oleh
karena itu, kita sebagai umat Kristiani mari bersikap baik, terima Yesus di
hati kita Masing-masing dan meninggalkan segala tindakan Amoral.
Selanjutnya,
Ibadah Paskah dipimpin oleh Yohanes
Ibertus Goo. Dengan Thema “MEWUJUDKAN
KERAHIMAN ALLAH DAN MENJADI BERKAT”; Sub Thema “Kebangkitan Yesus adalah Kesempurnaan Kasih Allah dan Semangat Untuk
Mewujudkan Kasih yang Sesungguhnya dalam Organisasi IPMANAPANDODE SEM-SAL”.
Dalam
Khotbahnya/Firman Tuhan, Ia menekankan agar setiap pribadi berupaya
meninggalkan kebiasan-kebiasaan buruk kepada sesama Manusia. Kita sadar dan
mengetahui bahwa setiap Manusia tidak luput dari salah dan Dosa. Dinamika hidup
selalu baik dan buruk; yang bersifat baik tetap berpegang, dan yang buruk
ditinggalkan; karena KematianNya hingga KebangkitanNya adalah teladan bagi kita.
Dan mulai sekarang, bagaimana cara kita untuk menempatkan diri ke jalan yang
benar, lalu melangkah dengan tindakan yang benar. Anda dan saya yakin bahwa
Yesus ada dan telah menebus dosa kita (Umat Manusia). Pengkotbah mengajak juga
kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE SEMSAL; agar memaknai apa yang menjadi
catatan dalam hidup kita melalui paskah ini. Karena Dosa adalah upah dari Maut.
Jika kita tidak melakukan hal yang diteladani oleh yesus, maka hidup ini hampa
(sia-sia). Dengan demikian, Mari kita yakin dan percaya bahwa Yesus telah
bangkit untuk menebus dosa-dosa umat Manusia.
Sebagai
akhir dari Firman Tuhan, Pengkotbah juga terinspirasi dan menyampaikan ungkapan
oleh salah satu Teolog, bahwa Dosa adalah Cipta; sesuatu hal yang diciptakan
oleh Manusia untuk merugikan bagi umat Tuhan. Hal ini dapat mengakibatkan
terjadinya Korupsi, Pembunuhan, Penindasan, Pemerkosaan dan lainnya.
Ibadah
Paskah IPMANAPANDODE SEM-SAL berakhir dengan cukup meriah. Acara Ibadah kali
ini diisi dengan lagu dalam bahasa Mee "Waani" dan lagu dalam Buku
Nyanyian Katholik "Mada Bakti". sehingga partisipasi dan kekompakan
dari anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL dapat terlihat. Berkaitan dengan kesuksesan
Paskah Tahun 2016; maka, Ketua Panitia
Paskah 2016, Alpius Dogomo, dalam sambutannya menyampaikan ucapan
terimakasih kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL, yang mana telah
membantu kami untuk menyukseskan Ibadah Paskah ini, akhirnya terlaksana dengan
baik.
Hal yang
sama disampaikan oleh BPH-IPMANAPANDODE SEM-SAL, yang diwakili oleh Sekretaris
BPH IPMANAPANDODE SEM-SAL, Yanuarius
Adii. Dalam sambutannya ia
mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE, terutama kepada
Panitia Paskah atas kerja kerasnya sehingga Ibadah Paskah Tahun 2016 dapat
terlaksana dengan cukup meriah. Kami BPH IPMANAPANDODE SEM-SAL sangat
memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada segenap Panitia Paskah Tahun
2016, Dengan kekompakan yang luar biasa hingga ibadah paskah ini dapat
terlaksana. Lanjutnya, Hal yang paling penting dalam kelompok adalah
Kekompakkan. sebab, kekompakkan dapat mendobrak tujuan yang hendak dicapai oleh
sekelompok itu sendiri.
Sayonara...........Seusai
Ibadah Paskah, Wakil Ketua IPMANAPANDODE
SEM-SAL Markus Butu, menyampaikan terimakasih kepada seluruh anggota
IPMANAPANDODE SEM-SAL; Secara Pribadi, Saya sangat apresiasi sedalam-dalamnya
atas kerja keras dan Kesiapannya yang cukup matang oleh segenap Panitia Paskah
Tahun 2016, sehingga Ibadah Paskah Tahun 2016 ini dapat terlaksana sesuai
dengan harapan kita bersama. Selain itu, Ia menegaskan bahwa Kontribusi dari
Senioritas sangat membutuhkan didalam Organisasi, karena tanpa senioritas dalam
Organisasi diibaratkan "anak ayam kehilangan induknya"
Catatan:
Makna Paskah: Paskah telah mengubah sejarah
kehidupan umat manusia. Lebih lagi semua orang yang percaya kepada Yesus.
Paskah menjadi tonggak sejarah kehidupan iman. Kita mempercayai bukan Allah yang
mati tetapi Allah yang benar-benar
hidup. Selain itu kita pun mengerti bahwa Yesus berbeda dari tokoh-tokoh
agama di dunia ini. Tokoh agama di muka bumi ini hanya memiliki hari kelahiran
dan kematian, tetapi hanya Yesus Kristus yang punya hari kebangkitan.
Kebangkitan itulah yang membawa pembebasan bagi kita dari kuasa dosa dan maut.
Seperti yang Paulus tuliskan “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut
dimanakah kemenanganmu?” (1 Kor. 15:54-55).
Senin, 28 Maret 2016
Pengertian dan Macam-macam Keadilan
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
08.29.00
Pengertian Keadilan ialah hal-hal
yang berkenaan pada suatu sikap dan juga tindakan didalam hubungan antar
manusia yang berisi tentang sebuah tuntutan agar sesamanya dapat memperlakukan
sesuai hak dan juga sesuai kewajibannya.
Pengertian Keadilan
Didalam
bahasa inggris keadilan ialah “justice”. Makna justice tersebut terbagi atas
dua yaitu makna justice secara atribut dan juga makna justice secara tindakan.
Makna
justice secara atribut ialah suatu kuasalitas yang fair atau adil. Sedangkan
makna justice secara tindakan ialah suatu tindakan menjalankan dan juga
menentukan hak atau hukuman.
Pengertian Keadilan Menurut
Definisi Para Ahli
§ Pengertian keadilan menurut Aristoteles yang menggemukakan
bahwa keadilan ialah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak
dan juga sedikit yang dapat diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap
orang sesuai dengan memberi apa yang menjadi haknya.
§ Pengertian keadilan menurut Frans Magnis
Suseno yang menggemukakan pendapatnya mengenai pengertian keadilan ialah
keadaan antarmanusia yang diperlakukan dengan sama ,yang sesuai dengan hak
serta kewajibannya masing-masing.
§ Pengertian keadilan menurut Thomas Hubbes
yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah sesuatu perbuatan yang
dikatakan adil jika telah didasarkan pada suatu perjanjian yang telah
disepakati.
§ Pengertian keadilan menurut Plato yang
menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah diluar kemampuan manusia biasa
yang mana keadilan tersebut hanya ada di dalam suatu hukum dan juga
perundang-undangan yang dibuat oleh para ahli .
§ Pengertian keadilan menurut W.J.S
Poerwadarminto yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah tidak berat
sebelah yang artinya seimbang, dan yang sepatutnya tidak sewenang-wenang.
§ Pengertian keadilan menurut Notonegoro yang
menggemukakan bahwa keadilan ialah suatu keadaan yang dikatakan adil apabila
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Macam-Macam Keadilan
Jenis-jenis keadilan menurut Teori
Aristoteles ialah sebagai berikut :
v Keadilan Komunikatif ialah perlakuan kepada
seseorang tanpa dengan melihat dari jasa-jasanya.
v Keadilan Distributif ialah suatu perlakuan
kepada seseorang sesuai dengan jasa-jasa yang telah diperbuatnya.
v Keadilan Konvensional ialah suatu keadilan
yang terjadi yang mana seseorang telah mematuhi suatu peraturan
perundang-undangan.
v Keadilan Perbaikan ialah suatu keadilan yang
terjadi yang mana seseorang telah mencemarkan nama baik orang lain.
v Keadilan Kodrat Alam ialah suatu perlakukan
kepada seseorang yang sesuai dengan suatu hukum alam.
Macam-macam atau jenis-jenis
keadilan menurut Teori Plato ialah sebagai berikut:
ü Keadilan Moral ialah suatu keadilan yang
terjadi jika mampu untuk dapat memberikan perlakukan seimbang antara hak dan
juga kewajibannya.
ü Keadilan Prosedural ialah suatu keadilan yang
terjadi jika seseorang dapat melaksanakan perbuatan sesuai dengan sesuai tata
cara yang diharapkan
Macam-macam Keadilan Secara Umum
ialah sebagai berikut:
·
Keadilan
Komunikatif (Iustitia Communicativa) ialah suatu keadilan yang memberikan
kepada masing-masing orang terhadap apa yang menjadi bagiannya dengan
berdasarkan suatu hak seseorang pada suatu objek tertentu.
·
Keadilan
Distributif (Iustitia Distributiva) ialah suatu keadilan yang memberikan kepada
masing-masing terhadap apa yang menjadi suatu hak pada subjek hak yakni
individu. Keadilan distributif ialah suatu keadilan yang menilai dari
proporsionalitas ataupun kesebandingan yang berdasarkan jasa, kebutuhan, dan
juga kecakapan.
·
Keadilan
Legal (Iustitia Legalis) ialah suatu keadilan menurut undang-undang dimana
objeknya ialah masyarakat yang dilindungi UU untuk kebaikan secara bersama
ataupun banum commune.
·
Keadilan
Vindikatif (Iustitia Vindicativa) ialah suatu keadilan yang memberikan hukuman
ataupun denda yang sesuai dengan pelanggaran atau[un kejatahannya.
·
Keadilan
Kreatif (Iustitia Creativa) ialah suatu keadilan yang memberikan masing-masing
orang dengan berdasarkan bagiannya yang berupa suatu kebebasan untuk dapat
menciptakan kreativitas yang dimilikinya dalam berbagai bidang kehidupan.
·
Keadilan
Protektif (Iustitia Protektiva) ialah suatu keadilan dengan memberikan suatu
penjagaan ataupun perlindungan kepada pribadi-pribadi dari suatu tindak
sewenang-wenang oleh pihak lain.
Minggu, 20 Maret 2016
ARNOLD AP DIBERI GELAR ‘BAPAK IDENTITAS PRIBUMI PAPUA’
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
03.26.00
![]() |
| Arnol C Ap |
Jayapura, 26/4 (Jubi) – Dalam rangka peringatan 29 tahun kematian
Arnold Clemens AP, tokoh budayawan Papua pada, 26 April 1984, akademisi
menyatakan Arnold pantas diberi gelar
‘bapak indentitas pribumi Papua.’ Selain Arnold, group Blacbrothers, Rio Grime,
dan Persipura juga pantas menyandang gelar tersebut.
Hal ini dikemukakan Musa Sombuk, mewakili akademisi dari
Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat, saat ditemui
tabloidjubi.com di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (26/4). Menurutnya, dihari kematian Arnold C. AP, 26
April 1984, dirinya pantas diberi gelar ‘bapak identitas pribumi Papua.’
“Selain Arnold, persipura, group blacbrothers dan rio grime juga pantas diberi
gelar itu,” kata Sombuk.
Sombuk menilai, group mambesak yang pelopori Arnold Ap, group
blacbrothers, group rio grime dan
persipura serta Otsus dan Majelis
Rakyat Papua (MRP) adalah satu garis kontrol melanesia. Kemudian, lanjut dia,
Arnold di zamannya dicap sebagai separatis dan pemberontak. Zaman sekarang,
bagi mereka yang mengkritisi soal MRP dan Otsus juga dicap sebagai sepratis dan
diklaim sebagai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sementara, persipura
adalah tim kebanggaan orang Papua saat ini.
Menurut dia, model yang dilakukan mambesak kala itu adalah model
yang unik di Papua dan tak ada di daerah lain diluar Papua. Bertolak dari itu,
pelopor mambesak, Arnold C. AP pantas dilihat sebagai indentitas pribumi Papua
atau diberi gelar identitas pribumi Papua. Persipura, Blacbrathers dan Rio
Grime juga pantas menyandang gelar yang sama.
Sombuk mengatakan, dari sisi akademisi, Arnold meletakan dasar
atropologi atau meletakan dasar etnopsikologi yang merupakan ciri tersendiri
dari bagian antropologi. Gerakan yang dilakukan saat itu oleh AP adalah gerakan
anropologi namun tak mendapat ruang. Akhirnya, dipandang sebagai gerakan
politik. Selanjutnya, Arnold AP sekeluarga diincar. Alhasil, Arnold AP terpaksa
harus dibunuh dengan cara ditembak di Pasir II Jayapura sejak itu.
Pada Jumat, 26 April 2013 kali ini adalah peringatan ke 29 tahun
kematian sang budayawan Papua ini. Penangkapan Arnold C. AP sendiri terjadi
pada 30 November 1983 dalam Operasi Tumpas dibawa kendali Komando Pasukan Sandi
Yudha (Kopasandha). AP dibunuh oleh kopasandha (kini kopasus) pada 26 April
tahun 1984.
(Jubi/Musa)
Sabtu, 19 Maret 2016
Teologi Pembebasan: Titik Temu Agama Dan Marxisme?
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
23.35.00
“Orang-orang borjuislah yang telah memutarbalikkan agama menjadi
candu bagi rakyat dengan mengkotbahkan adanya Tuhan yang cuma bertahta di
surga, sementara itu mereka meraup semua isi bumi ini untuk dirinya sendiri.” –
Pastor Frei Betto
Bila ada di kalangan kaum Marxis yang masih memusuhi agama secara
membabi-buta, atau sebaliknya, pemeluk agama yang masih penuh prasangka
terhadap marxisme, buku ini kiranya dapat memberikan pencerahan-pencerahan.
Setidaknya bagi saya, peresensi, buku ini memberikan jawaban atas banyak
pertanyaan yang kerap muncul, baik dalam pikiran sendiri maupun dalam
diskusi-diskusi.
Contoh-contoh dan konteks penulisan buku ini memang lebih mengacu
pada pengalaman gerakan teologi pembebasan di negeri yang mayoritas penganut
agama Kristen atau Katolik. Namun dari sini dapat pula dibuat perbandingan
terhadap praktek teologi pembebasan pada agama lain, misalnya dengan mengacu
pada pemikiran Asghar Ali Engineer atau Haji Misbach dalam Islam.
DATA BUKU
Judul Buku : Teologi Pembebasan – Kritik Marxisme & Marxisme
Kritis
Penulis : Michael Löwy
Penerbit : INSISTpress, Yogyakarta
Tahun terbit : Cetakan ke-2, Maret 2013
“Teologi Pembebasan, Kritik Marxisme & Marxisme Kritis” adalah
buku karya Michael Löwy, seorang intelektual Marxis yang pernah memenangkan
penghargaan prestisius dari dunia akademis PrancisCentre National de la
Recherche Scientifique (CNRS). Löwy melakukan kajian yang relatif lengkap
mengenai topik ini dengan memaparkan aspek filosofis, konteks situasi sosial,
dan aktor atau komponen yang terlibat di dalamnya.
Para pemikir
Pada bagian bagian awal, Löwy membahas pandangan tokoh-tokoh atau
pemikir Marxis mengenai hal keagamaan. Di sini pemikiran tokoh-tokoh tersebut
diulas satu per satu; mulai dari Karl Marx sendiri, Frederich Engels, Lenin,
Kautsky, Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci, sampai dengan Lucien Goldman dan
Ernst Bloch. Masing-masing dari mereka punya metode pendekatan sendiri terhadap
keberadaan agama. Namun, pemikiran yang dinilai paling kontekstual dalam
hubungan dengan teologi pembebasan adalah metode pendekatan yang digunakan oleh
Goldman dan Bloch.
Baik Goldman maupun Bloch, menurut Lowy, menaruh minat dalam hal
menyelamatkan nilai kemanusiaan dan moral dari tradisi agama. Bloch tidak
bersepakat dengan pandangan sebagian kaum marxis yang memandang agama
semata-mata sebagai “selubung bagi kepentingan kelas”. Bagi Bloch, dalam
berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah “salah satu bentuk
penting kesadaran utopia”, atau juga “salah satu ungkapan yang amat kaya
tentang Asas Pengharapan”. Ini artinya agama telah memberikan pijakan sekaligus
dorongan bagi perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Sementara itu Goldman, masih menurut Lowy, coba
membandingkan—tanpa mencampuradukkan—antara iman agama dan kepercayaan Marxis:
bahwa keduanya memiliki persaman menolak tegas individualisme murni (yang
rasional maupun yang empiris), dan keduanya percaya pada nilai-nilai
trans-individual—yakni Tuhan dalam ajaran agama dan masyarakat manusia dalam
sosialisme.
Pada bab selanjutnya Lowy membuat defenisi tentang teologi pembebasan.
Menurut Löwy, teologi pembebasan dapat dipandang sebagai “suatu gerakan”,
“suatu doktrin”, dan “arus pada semua aras”. Sebagai gerakan, Löwy menyimpulkan
bahwa teologi pembebasan telah ada sebagai pantulan pemikiran sekaligus
cerminan dari keadaan nyata, suatu praxis yang sudah ada sebelum ada penulisan
tentang teologi pembebasan itu sendiri. Sementara sebagai doktrin, buku ini
menjabarkan beberapa ajaran dasar yang dapat ditemukan dalam tulisan para
teolog pembebasan. Salah satu yang menarik dari doktrin tersebut adalah
perlawanan atas pemberhalaan (jadi bukan ateisme) sebagai musuh utama
agama—yakni menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun
baru, Ceasar-Ceasar baru, dan Herodes-Herodes baru: Uang, Kekayaan, Kekuasaan,
dan lain sejenisnya.
Keingintahuan pada asal-usul teologi pembebasan dapat terjawab
pada bab ketiga. Di sini Löwycoba menjawab pertanyaan sebab munculnya teologi
pembebasan yang mulai masif sebagai gerakan di tahun 1960-an. Terdapat dua
pendapat para pakar sebelumnya yang dicantumkan Löwy. Pertama, yang melihat
kemunculan gerakan ini sebagai “upaya gereja mempertahankan pengaruh” di
kalangan rakyat (umat) miskin. Kedua, yang berpendapat bahwa lembaga gereja
telah diambil-alih oleh rakyat miskin. Löwy mengkritik dua pendapat tersebut
dan mengajukan pendapat sendiri. Bahwa gerakan ini muncul terutama karena
adanya perubahan-perubahan di dalam maupun di luar gereja.
Konsep dan acuan berpikir
Bahwa gereja memiliki perhatian terhadap kaum miskin sama sekali
bukan hal yang baru. Ini merujuk pada sejarah pendirian gereja sendiri, yang
sudah berlangsung dua ribu tahun, yang pada awalnya lebih diterima oleh kaum
miskin atau orang-orang yang tertindas. Tidak sedikit diantara para teolog
pembebasan yang menginginkan agar gereja kembali ke khitah sebagai pembebas
kaum tertindas. Mereka memberi perhatian penting pada bagian Kitab Keluaran
“sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak”.
Dalam perjalanannya, gereja memang tetap memberi perhatian pada
kaum miskin. Tapi pendekatan yang digunakan semata-mata bersifat kedermawanan
atau cenderung paternalistik. Pendekatan ini yang ditentang dan diubah oleh
teologi pembebasan. Salah satu doktrinnya menyebutkan:
“Orang-orang miskin tak boleh lagi terus-terusan menjadi sasaran
kedermawanan, tetapi sebagai pelaku dari upaya pembebasan mereka sendiri.
Bantuan atau pertolongan yang bersifat kebapakan harus digantikan dengan aksi
kesetiakawanan bersama dalam perjuagan rakyat miskin untuk menentukan nasib
sendiri.”
Oleh karena itu, Löwy menyimpulkan bahwa bagi para teolog
pembebasan “Marxisme tampak sebagai suatu penjelasan yang sistematik, padat,
dan menyeluruh mengenai sebab-sebab kemiskinan dan merupakan satu-satunya
kesimpulan radikal yang memenuhi syarat untuk memberantas kemiskinan tersebut”.
Löwy tidak menampik adanya perbedaan-perbedaan antara marxisme dan
teologi pembebasan. Sedikit di antaranya yang paling mendasar adalah soal-soal
filsafat materialis, ideologi ateis, dan pemaknaan “agama sebagai candu rakyat”.Namun
dalam banyak hal perbedaan tersebut lebih kepada perbedaan tafsir terhadap
Marxisme. Bagi Gustavo Gutierrez, misalnya, Marxisme tidak semata menyediakan
alat analisa ilmiah, tetapi juga suatu kehendak perubahan sosial yang utopis.
Ketika masuk ke dalam praxis politik, Löwy menilai apa yang
dilakoni oleh para teolog pembebasan jauh lebih Marxis dibanding orang-orang
yang mengklaim diri ‘Marxis murni’. Bahkan Löwy mempertanyakan kemampuan kaum
‘Marxis text-book’ dan ‘materialis kasar’ yang jauh ketinggalan dalam praxis
dibandingkan para teolog pembebasan yang mampu membaca keadaan obyektifAmerika
Latin sehingga membawa kemajuan luar biasa dalam gerakan sosial dan politik di
Amerika Latin, termasuk dalam memenangkan revolusi Sandinista di Nicaragua.
Di sini disebutkan pula bahwa para filusuf teolog pembebasan
cenderung mengecam pandangan kaum Marxis yang dinilai “terlalu ilmiah”, seperti
Althusser. Mereka lebih tertarik pada “Marxisme Barat” yang sering disebut “Neo
Marxisme” seperti Ernst Bloch. Namun tetap yang paling menginspirasi mereka
adalah seorang Marxis Amerika Latin, Jose Carlos Mariategui, yang mengingatkan
agar sosialisme di Amerika Latin tidak boleh menjadi suatu “tiruan murni” atau
“salinan” saja dari pengalaman-pengalaman sosialisme yang sudah ada, tetapi
lebih merupakkan suatu “hasil cipta perjuangan” sendiri. Bukankah ini mirip
dengan pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Marhaenisme?
Para martir
Pada beberapa bagian dari buku ini pembaca dapat menemukan
berbagai ulasan maupun kisah menarik seputar perjuangan politik rakyat yang
melibatkan para uskup, pastor, suster, pendeta, tokoh agama, dan kaum awam.
Nama-nama yang tidak asing lagi sebagai pentolan teologi pembebasan juga
disebutkan dan secara singkat diulas di sini, seperti Gustavo Gutierrez, Frei
Betto, uskup Dom Helder Camara, uskup Oscar Romero, dan lain-lain. Tidak
sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran melawan kekuasaan diktator atau
ditangkap dan disiksa karena dukungan mereka terhadap gerakan politik.
Beberapa yang turut mengangkat senjata dan gugur dalam pertempuran
melawan tentara diktator adalah Romo Camilo Torres di Kolombia dan Romo Gaspar
Garcia Laviana di Nicaragua. Sementara banyak lain yang terbunuh karena
aktifitas politiknya, seperti Romo Domingo Lain (1974), Romo Joao Bosco Penido
Burnier (1976), Rutilio Grande (1977), dan Uskup Oscar Ramero (1980). Antara
lain karena pengorbanan-pengorbanan ini sehingga Löwy menyimpulkan bahwa
teologi pembebasan sama sekali bukan “siasat”atau “gerak tipu agamawan”
menghadapi kemiskinan yang ada, melainkan suatu pemihakan rohani yang amat
mendalam pada sebab-sebab perjuangan rakyat miskin.
Lenin dan Frei Betto
Di buku ini pula ada sebuah temuan menarik yang ingin saya bagikan
secara khusus. Löwy secara tidak sengaja[?] mengambil dua kutipan dari dua
orang yang berbeda dari rentang waktu yang juga berbeda, yakni Vladimir I.
Lenin dan Frei Betto, seorang misionaris dari ordo Dominican. Dikisahkan suatu
waktu Frei Betto ditangkap dan diinterogasi oleh seorang algojo rezim diktator
yang terkenal bengis. Ia ditanya:
“Bagaimana seorang Kristen kok bisa bekerjasama dengan orang
komunis?”
Betto menjawab:
“Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dan
mereka yang ateis, tetapi dibagi antara mereka yang ditindas dan mereka yang
menindas, antara mereka yang ingin mempertahankan tatanan masyarakat yang tidak
adil ini dan mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan.”
Kutipan ini menarik karena pada bagian awal buku telah diambil
sebuah kutipan lain dari Lenin tentang agama yang dapat ditemukan benang
merahnya sebagai berikut:
“…persatuan dalam perjuangan revolusioner yang nyata dari kelas
tertindas demi mencapai suatu surga di muka bumi adalah jauh lebih pennting
ketimbang kesatuan pendapat kaum proletar tentang surga yang akan datang nanti
di akhirat.”
Bisa jadi Frei Betto terilhami oleh tulisan Lenin ketika menjawab
pertanyaan sang algoju. Namun kesamaan pandangan ini setidaknya telah
memperjelas suatu kedekatan yang begitu erat antara Marxisme dan Teologi
Pembebasan. Tidak heran bila pada akhir tulisannya Löwybersepakat dengan banyak
kalangan di Amerika Latin yang menyatakan bahwa hubungan antara gerakan Marxis
dan Teologi Pembebasan bukan hanya sebatas taktis untuk memenangkan suatu
pertempuran tertentu, tetapi sesuatu yang organik.
Akhirnya, menurut Löwy, beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih
lanjut antara teologi pembebasan dan Marxis bukan lagi dasar filosofis (idealis
revolusioner dan materialisme dialektik), melainkan adalah pada soal-soal yang
masih sensitif bagi kalangan gereja, seperti persoalan pengguguran kandungan,
penggunaan alat kontrasepsi, dan peran atau posisi sosial perempuan secara
lebih luas.
Pada akhirnya, buku berisi 155 halaman ini kaya akan berbagai
ulasan lain terkait teologi pembebasan yang tentu saja tidak ditulis sepenuhnya
dalam resensi ini. Selain itu terdapat suplemen sebuah risalah dari Frei Betto
yang mengupas hubungan antara Teologi dan Marxisme.
Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik
(PRD)
Sumber Artikel:
http://www.berdikarionline.com/33988-2/#ixzz43QDvxd3s
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on
Facebook
Inisiatif
Diposting oleh
Kristianus Douw, S.Hub.Int.
di
21.53.00
Oleh:
Hasanudin Abdurakhman
Dalam
beberapa rapat manajemen yang kami lakukan setiap bulan, sesekali kami
berdiskusi tentang kondisi sumber daya manusia di perusahaan grup kami.
Biasanya muncul keluhan orang-orang Jepang soal kualitas orang kita.
Kebetulan
saya satu-satunya orang Indonesia dalam forum ini. Ini adalah forum yang
anggotanya adalah para presiden direktur perusahaan grup kami (ada 12
perusahaan), ditambah direktur di perusahaan holding. Semua orang Jepang.
Salah
satu hal yang mereka keluhkan adalah soal rendahnya inisiatif. “Shiji machi,”
kata mereka. Artinya banyak orang yang hanya menunggu perintah, kalau tidak
diperintah tidak bergerak. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya.
Orang
seperti ini memang akan jadi beban organisasi. Seorang pemimpin tidak akan sanggup
memikirkan segala aspek pekerjaan organisasinya sampai detil. Bawahannya harus
mengambil inisiatif, menerjemahkan arah kebijakan pemimpin ke tingkat yang
lebih detil dan mengeksekusinya.
Tanpa
hal itu, semua beban pikiran akan bertumpu pada pemimpin seorang saja. Kalau
sudah begini, organisasi tidak akan berjalan dengan baik.
Apa
itu inisiatif? Kata ini berasal dari bahasa Inggris, to initiate, artinya
memulai. Mengambil inisiatif artinya memulai suatu tindakan.
Dalam
hal organisasi tindakan yang kita mulai bisa merupakan sesuatu yang sama sekali
baru, tapi tidak harus selalu begitu. Inisiatif dalam pengertian yang kedua
bisa bermakna sebagai penjabaran strategi/kebijakan yang sudah ada.
Bagaimana
mengambil inisiatif? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami
organisasi tempat kita bekerja, lalu memahami posisi dan peran kita dalam
organisasi tersebut.
Mengambil
inisiatif bukan berarti kita boleh asal bertindak, yang penting memulai
sesuatu. Berinisiatif artinya bertindak selaras dengan tujuan organisasi, dan
sesuai dengan fungsi dan wewenang kita.
Pengetahuan
tentang organisasi serta peran kita akan memastikan tindakan yang kita mulai
sesuai dengan kebutuhan, serta memberi kita panduan tentang batas yang tidak
boleh kita lampaui.
Yang
kedua adalah hal yang lebih teknis, yaitu memahami arahan dari pimpinan. Peran
kita adalah menerjemahkan arahan itu menjadi tindakan-tindakan di lapangan.
Inisiatif bermakna, kita menerjemahkannya menjadi rencana tindakan yang lebih
detil serta mengeksekusinya.
Tapi
inisiatif bisa pula bermakna bahwa kita memperpanjang garis vektor yang sudah
digambarkan oleh pimpinan. Ingat, kita hanya memperpanjang garis itu, bukan
membelokkannya ke arah lain.
Kita
pun harus waspada, ada batas yang tidak boleh kita lewati. Jangan
mememperpanjang garis terlalu jauh.
Bolehkah
kita membelokkan arah garis kebijakan? Sampai di mana batas kita dalam menarik
garis perpanjangan tadi? Dalam hal ini manajemen Jepang punya konsep yang
disebut horenso.
Horenso
adalah nama sayur, sejenis bayam. Tapi dalam hal ini horenso adalah singkatan,
hokoku (lapor), renraku (kontak), sodan (konsultasi/diskusi). Boleh saja kita
berinisiatif membelukkan arah garis kebijakan yang diberikan atasan kita, tapi
kita perlu berkonsultasi dengan dia.
Kita
juga harus tahu sampai di mana kita harus berhenti, atau di mana kita harus
belok lagi. Dalam hal ini horenso, komunikasi dengan atasan, juga dengan
anggota tim yang lain harus terus dilakukan.
Ada beberapa sikap praktis yang bisa kita
kembangkan untuk membangun inisiatif.
Terus
bekerja dan berpikir untuk mencari solusi. Jangan pernah menyerah ketika usaha
yang kita lakukan belum mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Hanya
dengan mencoba melalui berbagai cara kita akan menjadi lebih kreatif dengan
berbagai ide. Ingat, ide bisa menjadi kontribusi yang paling mahal bagi
organisasi.
Biasakan
untuk bekerja lebih. Ini terkait dengan memperpanjang garis vektor tadi.
Biasakan untuk mengerjakan lebih dari garis arahan yang diberikan pada kita.
Berpikirlah
sebagai anggota tim. Kita tidak bekerja sendiri dalam organisasi. Mengambil
inisiatif bisa bermakna membaca posisi posisi sejawat, lalu kita menentukan
tempat kita berdiri, untuk mengambil peran di situ. Persis seperti pemain sepak
bola yang memilih tempat untuk menerima umpan, mengopernya kepada anggota tim
lain, atau menendangnya ke gawang lawan.
Biasakan
untuk berbagi gagasan dan berdiskusi. Berinisiatif bisa bermakna mempengaruhi
orang lain untuk menuju pada suatu arah tertentu. Menyebarkan gagasan tentang
apa yang akan atau sedang kita lakukan, mengajak orang melakukannya bersama,
adalah hal penting. Bila ini berhasil dilakukan, maka kita akan mendapatkan
energi yang lebih banyak untuk mewujudkannya.
Pertimbangkan
setiap kesempatan. Solusi untuk berbagai masalah boleh jadi tersembunyi di
berbagai tempat. Bila kita tidak mencoba, mungkin kita tidak akan pernah sampai
kepada solusi tersebut.
Selalu
menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga kita selalu siap untuk
penugasan baru, atau menyelesaikan masalah baru.
Bertanggung
jawablah. Selesaikan apa yang telah Anda mulai. Bertanggung jawablah terhadap
hasilnya, baik atau buruk. Jangan hanya mengklaim bisa hasil baik, dan
menghindar bila ternyata hasilnya buruk. Hasil buruk tidak perlu ditangisi,
tapi harus dijadikan bahan evaluasi untuk berbuat lebih baik lagi.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/15/140932626/Inisiatif
Langganan:
Komentar (Atom)
Media Text
Profil Text
Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.
Post Populer
-
Teori Tindakan Sosial Menurut Max Weber - Eksemplar paradigma definisi sosial ini salah satu aspeknya yang sangat khusus adalah dari k...
-
“kasihanilah kami ya Allah menurut kasih setia-MU. Jauhkanlah kami dari penderitaan yang melumpuhkan kami dan obyek permainan sesama...
-
Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia wilayah tidak begitu populer. Bagaimana orang-orang hidup dan bertahan sampai sekarang? Apakah me...
-
1. Nama Negara: Stato Città del Vaticano, (The Vatican City State = Negara Kota Vatikan), dibentuk melalui Traktat Lateran (...
-
Septinus George Saa lahir di Manokwari pada 22 September 1986. Sejak kecil, dia sering tinggal berpindah-pindah mengikuti orang tuanya...
-
Foto Ibadah Paskah/ Doc. Piyaiyepai Semarang, 29 Maret 2016. Sejumlah Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Ikatan Pe...













