Se Kalimat "Coretan Tinta Merah" Akan Mengukir Seribu Makna Dalam Segala Fenomena Kehidupan.

Jumat, 01 April 2016

Perjuangan Meraih Kesuksesan

“A brief note”

Ilustrasi
Siapapun pasti ingin sukses. Karena dengan kesuksesan, orang akan berpikir bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Menuju puncak kebahagian merupakan impian semua orang. Setiap orang berbeda dalam mengartikan sukses dalam hidupnya. Apa arti sukses menurut Anda? banyak orang yang menganggap arti sukses sebagai pada saat kita wisuda, pada saat naik jabatan, atau pada saat menerima penobatan sebagai orang teladan, orang terpandai. Boleh dikatakan sukses, tetapi menurut saya itu bukan akhir dari sukses tetapi merupakan bagian dari sukses.
Kita tekad menjadi sukses dalam pengertian ini adalah karena sebuah keputusan yang kita buat untuk melakukan hal yang tepat mulai hari ini, mulai saat ini dan detik ini, dengan keputusan yang kita buat untuk melakukan suatu kegiatan secara rutin dan konsisten, maka saya yakin pada suatu hari kita akan di beri penghargaan sebagai orang sukses terhadap apa yang sedang kita lakukan tersebut. Sukses itu bukan hasil akhir, sukses itu adalah hasil perjuangan selama kita masih hidup (proses). Maka kesuksesan yang sesungguhnya dapat peroleh akan datang; bila kita sudah bekerja keras dan sabar serta meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa.
Dalam perjuangan meraih kesuksesan tentunya banyak hal yang akan kita alami dan lewati, baik; suka-duka, lapar-haus bahagia, ke kampus jalan kaki mandi keringat dan lainnya. Dan hal ini tentunya sebagai manusia harus lewati dinamika kehidupan ini, sebab dalam sejarah hidup Manusia, tidak pernah ada kesuksesan itu datang sendiri tanpa perjuangan.   
Para Ahli telah mendefinisikan arti sukses, Namun, bagi saya lebih menarik arti kesuksesan yang dikemukakan oleh D. Paul Reilly dalam bukunya Succes is simple (1977) mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga. Karena sekecil apapun yang kita usaha, tentunya sangat berharga bagi banyak orang di masa yang akan datang.
Saya mengulas sedikit tentang pengalaman hidup dan harapannya para pembaca dapat memaknai arti dari tulisan ini; agar lebih mengenal apa yang dimaksud dengan kesuksesan itu. Dan sebagai akhir dari catatan singkat ini saya mendefininisikan “Sukses itu bukan suatu tujuan akhir dengan kualitas seadanya, tetapi sebagai suatu proses yang harus di lakukan tahap demi tahap, dan hari demi hari”. Dengan demikian, Apa yang menjadi dambaan bagi kita akan menuai hasilnya di kemudian hari, sesuai dengan hasil perjuangan kita.


Kamis, 31 Maret 2016

Revolusi Kuba

Kuba adalah negara pulau yang terletak di Teluk Meksiko, Laut Karibia. Kuba merupakan negara yang terkenal dengan cerutunya. Kuba sebelumnya juga lama menjadi jajahan Spanyol. Pada masa Perang Dingin, Kuba yang letaknya sangat strategis juga tidak luput dari incaran perluasan pengaruh dan ideologi negara adidaya. Kuba merupakan negara republik komunis pertama yang berada di belahan bumi Barat. Letak Kuba yang dekat dengan Negara Amerika Serikat menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat.

Kuba sebelum Perang Dunia II
Kuba pertama kali ditemukan oleh Columbus, orang Spanyol pada tahun 1492. Seperti halnya tempat-tempat lain yang ditemukan orang Eropa dalam masa penjelajahan samudra, yaitu diakui sebagai miliknya, begitu pula dengan nasib Kuba. Columbus segera mengklaim bahwa Kuba adalah milik Spanyol. Sejak saat itu, Kuba menjadi koloni Spanyol. Pada sekitar tahun 1868–1878 di Kuba timbul gerakan menuntut kemerdekaan. Perang Kemerdekaan tahap kedua muncul pada tahun 1895 dengan dipimpin Jose Marti. Amerika Serikat mendukung gerakan itu setelah kapal perangnya Marine yang dikirim untuk melindungi warga negaranya di Kuba meledak misterius. Amerika Serikat menganggap itu merupakan sabotase yang dilakukan Spanyol. Oleh karena itu, Amerika Serikat membantu Kuba menyingkirkan Spanyol. Wilayah Kuba sampai tahun 1902 mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Pada tahun 1933 kelompok revolusioner yang dipimpin oleh Fulqencio Batista berhasil mengambil alih pemerintahan di Kuba. Batista memerintah Kuba secara diktator. Pada masa pemerintahan Batista, korupsi makin merajalela.

Kuba setelah Perang Dunia II
Kondisi rakyat Kuba yang sangat memprihatinkan pada masa pemerintahan Batista, menggugah semangat salah seorang anak bangsa untuk memperbaikinya. Fidel Castro seorang putra tuan tanah kaya raya tidak tahan melihat penderitaan rakyat Kuba. Pada tahun 1953 Castro mencoba melakukan kudeta, tetapi gagal. Akibatnya, Castro dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.
Namun, baru menjalani hukuman selama dua tahun, Castro telah dibebaskan. Penjara tidak membuat Castro jera dalam memperjuangkan keinginannya. Setelah keluar dari penjara Castro kembali menghimpun kekuatan. Castro melatih pengikutnya di dekat kota Meksiko. Pada tahun 1956, Castro bersama para pengikut setianya kembali berusaha menggulingkan kekuasaan Presiden Batista. Selama hampir tiga tahun Castro berusaha merebut kekuasaan di Kuba. Pada tahun 1959 Batista meninggalkan Kuba dan digantikan Castro. Fidel Castro sebenarnya bukan seorang komunis. Hal itu seperti pernyataannya yang mengatakan, “Revolusi kita bukan berwarna merah, melainkan hijau zaitun.” Kata-kata Castro itu menunjuk pada warna seragam yang ia pakai bersama pengikutnya. Bahkan, Castro juga mengutuk komunis dengan konsepnya yang totaliter. Castro juga berusaha membersihkan tindakannya yang dianggap disponsori komunis dengan berpidato di Universitas Princeton, Amerika Serikat. Dalam pidato tersebut, Castro menyatakan bahwa, “... bertentangan dengan pola Revolusi Rusia dan model Marxis bahwa di Kuba tidak berdasarkan perjuangan kelas .... Revolusi Kuba juga tidak berniat meniadakan kepemilikan swasta.” Namun, pemerintah Amerika Serikat tetap memandang bahwa revolusi yang dikobarkan Castro disponsori pihak komunis. Hal ini akibat tindakan Castro yang banyak mengubah kehidupan Kuba yang mendekati slogan komunis, sama rasa sama rata. Castro banyak membangun sekolah dan rumah bagi orang yang tidak mampu. Pemerintah Kuba juga mulai mengontrol semua penerbitan surat kabar serta siaran radio dan televisi. Tindakan Castro makin lama mengkhawatirkan pemerintah Amerika Serikat. Hal itu disebabkan Castro makin berani menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang berada di Kuba.
Akibatnya, Amerika Serikat mengambil tindakan tegas, yaitu menghentikan hubungan dengan Kuba pada tahun 1961. Menghadapi kenyataan itu Fidel Castro selanjutnya segera menjalin hubungan dengan negara-negara komunis, seperti Cina dan Uni Soviet. Dari negara-negara tersebut, Kuba berharap agar mereka bersedia memberi bantuan ekonomi guna melaksanakan dan melanjutkan pembangunan.
Pemerintah Amerika Serikat yang mendapati kenyataan bahwa Kuba telah masuk blok komunis makin khawatir atas keselamatan negaranya. Hal itu beralasan karena jarak Kuba dengan Amerika Serikat tidak lebih dari 10 mil. Atas kekhawatiran itu, pemerintah Amerika Serikat berniat menggulingkan pemerintahan Fidel Castro yang prokomunis. Untuk mencapai maksud itu, pemerintah Amerika Serikat akan menggunakan para pelarian Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Dari orang-orang pelarian Kuba itu, Amerika Serikat berharap dapat menguasai Teluk Babi yang dapat dipakai sebagai lompatan untuk menundukkan Havana, ibu kota Kuba. Dinas intelejen Amerika Serikat (CIA) bertugas melatih orang-orang pelarian Kuba agar berhasil dalam misinya. Sekitar 1.200 orang pelarian Kuba di Amerika Serikat berhasil dikumpulkan dan dilatih kemiliteran.
Presiden baru Amerika Serikat, John Fietzgeerald Kennedy juga menyetujui rencana penggulingan Fidel Castro melalui orang-orang Kuba sendiri. Kennedy bahkan memerintahkan untuk memberi perlindungan dan pengawalan dalam penyerbuan Teluk Babi melalui pelarian orang-orang Kuba dilaksanakan. Peristiwa itu kemudian disebut The Bay Pig’s Episode atau Insiden Teluk Babi. Namun, pada detik-detik terakhir penyerangan, Kennedy memerintahkan membatalkan bantuan perlindungan dan pengawalan. Akibatnya mudah diduga, pemerintah Kuba sangat mudah mematahkan penyerbuan orang-orang Kuba pelarian itu. Atas Insiden tersebut, hubungan Kuba dan Amerika Serikat makin renggang. Sementara itu, pemimpin Uni Soviet, Khruschev segera memanfaatkan situasi atas insiden Teluk Babi tersebut dan begitu intensif mendekati Kuba. Ia menawarkan paket bantuan ekonomi yang lebih besar lagi apabila Kuba bersedia mengizinkan Uni Soviet membangun pangkalan militer dan menempatkan rudal nuklirnya di wilayah tersebut. Ia berencana rudal-rudalnya akan dapat diarahkan ke Amerika Serikat tanpa ada hambatan. Keinginan Uni Soviet tentu saja mendapat tantangan dari Amerika Serikat. Presiden Kennedy menyatakan bahwa penempatan rudal Uni Soviet di Kuba merupakan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat akan mengambil segala cara dan tindakan untuk menggagalkannya. Salah satu tindakan Amerika Serikat dalam menggagalkan pembangunan pangkalan militer dan rudal Uni Soviet adalah menghadang setiap kapal Uni Soviet yang menuju ke Kuba. Tentu saja tindakan itu menimbulkan krisis yang hampir membawa dunia dalam perang nuklir. Karena merasa belum berimbang kekuatan militernya, akhirnya Uni Soviet membatalkan penempatan pangkalan militer dan rudalnya di Kuba. Apalagi, Amerika Serikat juga berjanji tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Kuba. Hubungan baik Kuba dengan Amerika Serikat mulai membaik lagi pada tahun 1973 setelah kedua negara membuat perjanjian mengenai pertukaran pembajak.
Pada tahun 1975 embargo ekonomi pada Kuba yang dilakukan Amerika Serikat mulai dihapus. Namun, hubungan Amerika–Kuba memanas lagi setelah pada akhir tahun 1975 Kuba mengirim pasukannya ke Angola. Dari kejadian di Kuba itu, dua negara adidaya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, akhirnya juga menyadari betapa bahayanya apabila perang terbuka yang merembet pada perang nuklir terjadi. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi terjadinya perang nuklir dan akibatnya, kedua negara adidaya sepakat melakukan pembicaraan pengurangan senjata.

Rabu, 30 Maret 2016

IPMANAPANDODE Semarang dan Salatiga Merayakan Ibadah Paskah

Foto Ibadah Paskah/ Doc. Piyaiyepai
Semarang, 29 Maret 2016. Sejumlah Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Ikatan Pelajar–Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai yang mengenyam Pendidikan Kota Study Semarang dan Salatiga, Gelar Ibadah Paskah di Sekretariat IPMANAPANDODE SEM-SAL, Semarang – Jawa Tengah.
Ibadah Paskah Tahun 2016; dipandu oleh Tarina Iyai. Dalam kata-kata pembukaannya, Ia mengajak seluruh anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL; bahwa Yesus mati dikayu salib demi umat Manusia. Oleh karena itu, kita sebagai umat Kristiani mari bersikap baik, terima Yesus di hati kita Masing-masing dan meninggalkan segala tindakan Amoral.
Selanjutnya, Ibadah Paskah dipimpin oleh Yohanes Ibertus Goo. Dengan Thema “MEWUJUDKAN KERAHIMAN ALLAH DAN MENJADI BERKAT”; Sub Thema “Kebangkitan Yesus adalah Kesempurnaan Kasih Allah dan Semangat Untuk Mewujudkan Kasih yang Sesungguhnya dalam Organisasi IPMANAPANDODE SEM-SAL”.
Dalam Khotbahnya/Firman Tuhan, Ia menekankan agar setiap pribadi berupaya meninggalkan kebiasan-kebiasaan buruk kepada sesama Manusia. Kita sadar dan mengetahui bahwa setiap Manusia tidak luput dari salah dan Dosa. Dinamika hidup selalu baik dan buruk; yang bersifat baik tetap berpegang, dan yang buruk ditinggalkan; karena KematianNya hingga KebangkitanNya adalah teladan bagi kita. Dan mulai sekarang, bagaimana cara kita untuk menempatkan diri ke jalan yang benar, lalu melangkah dengan tindakan yang benar. Anda dan saya yakin bahwa Yesus ada dan telah menebus dosa kita (Umat Manusia). Pengkotbah mengajak juga kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE SEMSAL; agar memaknai apa yang menjadi catatan dalam hidup kita melalui paskah ini. Karena Dosa adalah upah dari Maut. Jika kita tidak melakukan hal yang diteladani oleh yesus, maka hidup ini hampa (sia-sia). Dengan demikian, Mari kita yakin dan percaya bahwa Yesus telah bangkit untuk menebus dosa-dosa umat Manusia.
Sebagai akhir dari Firman Tuhan, Pengkotbah juga terinspirasi dan menyampaikan ungkapan oleh salah satu Teolog, bahwa Dosa adalah Cipta; sesuatu hal yang diciptakan oleh Manusia untuk merugikan bagi umat Tuhan. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya Korupsi, Pembunuhan, Penindasan, Pemerkosaan dan lainnya.
Ibadah Paskah IPMANAPANDODE SEM-SAL berakhir dengan cukup meriah. Acara Ibadah kali ini diisi dengan lagu dalam bahasa Mee "Waani" dan lagu dalam Buku Nyanyian Katholik "Mada Bakti". sehingga partisipasi dan kekompakan dari anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL dapat terlihat. Berkaitan dengan kesuksesan Paskah Tahun 2016; maka, Ketua Panitia Paskah 2016, Alpius Dogomo, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL, yang mana telah membantu kami untuk menyukseskan Ibadah Paskah ini, akhirnya terlaksana dengan baik.
Hal yang sama disampaikan oleh BPH-IPMANAPANDODE SEM-SAL, yang diwakili oleh Sekretaris BPH IPMANAPANDODE SEM-SAL, Yanuarius Adii. Dalam sambutannya  ia mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE, terutama kepada Panitia Paskah atas kerja kerasnya sehingga Ibadah Paskah Tahun 2016 dapat terlaksana dengan cukup meriah. Kami BPH IPMANAPANDODE SEM-SAL sangat memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada segenap Panitia Paskah Tahun 2016, Dengan kekompakan yang luar biasa hingga ibadah paskah ini dapat terlaksana. Lanjutnya, Hal yang paling penting dalam kelompok adalah Kekompakkan. sebab, kekompakkan dapat mendobrak tujuan yang hendak dicapai oleh sekelompok itu sendiri.
Sayonara...........Seusai Ibadah Paskah, Wakil Ketua IPMANAPANDODE SEM-SAL Markus Butu, menyampaikan terimakasih kepada seluruh anggota IPMANAPANDODE SEM-SAL; Secara Pribadi, Saya sangat apresiasi sedalam-dalamnya atas kerja keras dan Kesiapannya yang cukup matang oleh segenap Panitia Paskah Tahun 2016, sehingga Ibadah Paskah Tahun 2016 ini dapat terlaksana sesuai dengan harapan kita bersama. Selain itu, Ia menegaskan bahwa Kontribusi dari Senioritas sangat membutuhkan didalam Organisasi, karena tanpa senioritas dalam Organisasi diibaratkan "anak ayam kehilangan induknya"

Catatan:
Makna Paskah: Paskah telah mengubah sejarah kehidupan umat manusia. Lebih lagi semua orang yang percaya kepada Yesus. Paskah menjadi tonggak sejarah kehidupan iman. Kita mempercayai bukan Allah yang mati tetapi Allah yang benar-benar  hidup. Selain itu kita pun mengerti bahwa Yesus berbeda dari tokoh-tokoh agama di dunia ini. Tokoh agama di muka bumi ini hanya memiliki hari kelahiran dan kematian, tetapi hanya Yesus Kristus yang punya hari kebangkitan. Kebangkitan itulah yang membawa pembebasan bagi kita dari kuasa dosa dan maut. Seperti yang Paulus tuliskan “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah kemenanganmu?” (1 Kor. 15:54-55).

Senin, 28 Maret 2016

Pengertian dan Macam-macam Keadilan

Pengertian Keadilan ialah hal-hal yang berkenaan pada suatu sikap dan juga tindakan didalam hubungan antar manusia yang berisi tentang sebuah tuntutan agar sesamanya dapat memperlakukan sesuai hak dan juga sesuai kewajibannya.

Pengertian Keadilan
Didalam bahasa inggris keadilan ialah “justice”. Makna justice tersebut terbagi atas dua yaitu makna justice secara atribut dan juga makna justice secara tindakan.
Makna justice secara atribut ialah suatu kuasalitas yang fair atau adil. Sedangkan makna justice secara tindakan ialah suatu tindakan menjalankan dan juga menentukan hak atau hukuman.

Pengertian Keadilan Menurut Definisi Para Ahli
§  Pengertian keadilan menurut Aristoteles yang menggemukakan bahwa keadilan ialah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan juga sedikit yang dapat diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan memberi apa yang menjadi haknya.
§  Pengertian keadilan menurut Frans Magnis Suseno yang menggemukakan pendapatnya mengenai pengertian keadilan ialah keadaan antarmanusia yang diperlakukan dengan sama ,yang sesuai dengan hak serta kewajibannya masing-masing.
§  Pengertian keadilan menurut Thomas Hubbes yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah sesuatu perbuatan yang dikatakan adil jika telah didasarkan pada suatu perjanjian yang telah disepakati.
§  Pengertian keadilan menurut Plato yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah diluar kemampuan manusia biasa yang mana keadilan tersebut hanya ada di dalam suatu hukum dan juga perundang-undangan yang dibuat oleh para ahli .
§  Pengertian keadilan menurut W.J.S Poerwadarminto yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah tidak berat sebelah yang artinya seimbang, dan yang sepatutnya tidak sewenang-wenang.
§  Pengertian keadilan menurut Notonegoro yang menggemukakan bahwa keadilan ialah suatu keadaan yang dikatakan adil apabila sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Macam-Macam Keadilan
Jenis-jenis keadilan menurut Teori Aristoteles ialah sebagai berikut :
v  Keadilan Komunikatif ialah perlakuan kepada seseorang tanpa dengan melihat dari jasa-jasanya.
v  Keadilan Distributif ialah suatu perlakuan kepada seseorang sesuai dengan jasa-jasa yang telah diperbuatnya.
v  Keadilan Konvensional ialah suatu keadilan yang terjadi yang mana seseorang telah mematuhi suatu peraturan perundang-undangan.
v  Keadilan Perbaikan ialah suatu keadilan yang terjadi yang mana seseorang telah mencemarkan nama baik orang lain.
v  Keadilan Kodrat Alam ialah suatu perlakukan kepada seseorang yang sesuai dengan suatu hukum alam.
Macam-macam atau jenis-jenis keadilan menurut Teori Plato ialah sebagai berikut:
ü  Keadilan Moral ialah suatu keadilan yang terjadi jika mampu untuk dapat memberikan perlakukan seimbang antara hak dan juga kewajibannya.
ü  Keadilan Prosedural ialah suatu keadilan yang terjadi jika seseorang dapat melaksanakan perbuatan sesuai dengan sesuai tata cara yang diharapkan

Macam-macam Keadilan Secara Umum ialah sebagai berikut:
·         Keadilan Komunikatif (Iustitia Communicativa) ialah suatu keadilan yang memberikan kepada masing-masing orang terhadap apa yang menjadi bagiannya dengan berdasarkan suatu hak seseorang pada suatu objek tertentu.
·         Keadilan Distributif (Iustitia Distributiva) ialah suatu keadilan yang memberikan kepada masing-masing terhadap apa yang menjadi suatu hak pada subjek hak yakni individu. Keadilan distributif ialah suatu keadilan yang menilai dari proporsionalitas ataupun kesebandingan yang berdasarkan jasa, kebutuhan, dan juga kecakapan.
·         Keadilan Legal (Iustitia Legalis) ialah suatu keadilan menurut undang-undang dimana objeknya ialah masyarakat yang dilindungi UU untuk kebaikan secara bersama ataupun banum commune.
·         Keadilan Vindikatif (Iustitia Vindicativa) ialah suatu keadilan yang memberikan hukuman ataupun denda yang sesuai dengan pelanggaran atau[un kejatahannya.
·         Keadilan Kreatif (Iustitia Creativa) ialah suatu keadilan yang memberikan masing-masing orang dengan berdasarkan bagiannya yang berupa suatu kebebasan untuk dapat menciptakan kreativitas yang dimilikinya dalam berbagai bidang kehidupan.
·         Keadilan Protektif (Iustitia Protektiva) ialah suatu keadilan dengan memberikan suatu penjagaan ataupun perlindungan kepada pribadi-pribadi dari suatu tindak sewenang-wenang oleh pihak lain.

Minggu, 20 Maret 2016

ARNOLD AP DIBERI GELAR ‘BAPAK IDENTITAS PRIBUMI PAPUA’

Arnol C Ap
Jayapura, 26/4 (Jubi) – Dalam rangka peringatan 29 tahun kematian Arnold Clemens AP, tokoh budayawan Papua pada, 26 April 1984, akademisi menyatakan Arnold  pantas diberi gelar ‘bapak indentitas pribumi Papua.’ Selain Arnold, group Blacbrothers, Rio Grime, dan Persipura juga pantas menyandang gelar tersebut.
Hal ini dikemukakan Musa Sombuk, mewakili akademisi dari Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat, saat ditemui tabloidjubi.com di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (26/4).  Menurutnya, dihari kematian Arnold C. AP, 26 April 1984, dirinya pantas diberi gelar ‘bapak identitas pribumi Papua.’ “Selain Arnold, persipura, group blacbrothers dan rio grime juga pantas diberi gelar itu,” kata Sombuk.
Sombuk menilai, group mambesak yang pelopori Arnold Ap, group blacbrothers, group rio grime dan  persipura  serta Otsus dan Majelis Rakyat Papua (MRP) adalah satu garis kontrol melanesia. Kemudian, lanjut dia, Arnold di zamannya dicap sebagai separatis dan pemberontak. Zaman sekarang, bagi mereka yang mengkritisi soal MRP dan Otsus juga dicap sebagai sepratis dan diklaim sebagai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sementara, persipura adalah tim kebanggaan orang Papua saat ini.
Menurut dia, model yang dilakukan mambesak kala itu adalah model yang unik di Papua dan tak ada di daerah lain diluar Papua. Bertolak dari itu, pelopor mambesak, Arnold C. AP pantas dilihat sebagai indentitas pribumi Papua atau diberi gelar identitas pribumi Papua. Persipura, Blacbrathers dan Rio Grime juga pantas menyandang gelar yang sama.
Sombuk mengatakan, dari sisi akademisi, Arnold meletakan dasar atropologi atau meletakan dasar etnopsikologi yang merupakan ciri tersendiri dari bagian antropologi. Gerakan yang dilakukan saat itu oleh AP adalah gerakan anropologi namun tak mendapat ruang. Akhirnya, dipandang sebagai gerakan politik. Selanjutnya, Arnold AP sekeluarga diincar. Alhasil, Arnold AP terpaksa harus dibunuh dengan cara ditembak di Pasir II Jayapura sejak itu.
Pada Jumat, 26 April 2013 kali ini adalah peringatan ke 29 tahun kematian sang budayawan Papua ini. Penangkapan Arnold C. AP sendiri terjadi pada 30 November 1983 dalam Operasi Tumpas dibawa kendali Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). AP dibunuh oleh kopasandha (kini kopasus) pada 26 April tahun 1984.
(Jubi/Musa)

Sabtu, 19 Maret 2016

Teologi Pembebasan: Titik Temu Agama Dan Marxisme?

“Orang-orang borjuislah yang telah memutarbalikkan agama menjadi candu bagi rakyat dengan mengkotbahkan adanya Tuhan yang cuma bertahta di surga, sementara itu mereka meraup semua isi bumi ini untuk dirinya sendiri.” – Pastor Frei Betto

Bila ada di kalangan kaum Marxis yang masih memusuhi agama secara membabi-buta, atau sebaliknya, pemeluk agama yang masih penuh prasangka terhadap marxisme, buku ini kiranya dapat memberikan pencerahan-pencerahan. Setidaknya bagi saya, peresensi, buku ini memberikan jawaban atas banyak pertanyaan yang kerap muncul, baik dalam pikiran sendiri maupun dalam diskusi-diskusi.
Contoh-contoh dan konteks penulisan buku ini memang lebih mengacu pada pengalaman gerakan teologi pembebasan di negeri yang mayoritas penganut agama Kristen atau Katolik. Namun dari sini dapat pula dibuat perbandingan terhadap praktek teologi pembebasan pada agama lain, misalnya dengan mengacu pada pemikiran Asghar Ali Engineer atau Haji Misbach dalam Islam.

DATA BUKU
Judul Buku : Teologi Pembebasan – Kritik Marxisme & Marxisme Kritis
Penulis : Michael Löwy
Penerbit : INSISTpress, Yogyakarta
Tahun terbit : Cetakan ke-2, Maret 2013

“Teologi Pembebasan, Kritik Marxisme & Marxisme Kritis” adalah buku karya Michael Löwy, seorang intelektual Marxis yang pernah memenangkan penghargaan prestisius dari dunia akademis PrancisCentre National de la Recherche Scientifique (CNRS). Löwy melakukan kajian yang relatif lengkap mengenai topik ini dengan memaparkan aspek filosofis, konteks situasi sosial, dan aktor atau komponen yang terlibat di dalamnya.

Para pemikir
Pada bagian bagian awal, Löwy membahas pandangan tokoh-tokoh atau pemikir Marxis mengenai hal keagamaan. Di sini pemikiran tokoh-tokoh tersebut diulas satu per satu; mulai dari Karl Marx sendiri, Frederich Engels, Lenin, Kautsky, Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci, sampai dengan Lucien Goldman dan Ernst Bloch. Masing-masing dari mereka punya metode pendekatan sendiri terhadap keberadaan agama. Namun, pemikiran yang dinilai paling kontekstual dalam hubungan dengan teologi pembebasan adalah metode pendekatan yang digunakan oleh Goldman dan Bloch.
Baik Goldman maupun Bloch, menurut Lowy, menaruh minat dalam hal menyelamatkan nilai kemanusiaan dan moral dari tradisi agama. Bloch tidak bersepakat dengan pandangan sebagian kaum marxis yang memandang agama semata-mata sebagai “selubung bagi kepentingan kelas”. Bagi Bloch, dalam berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah “salah satu bentuk penting kesadaran utopia”, atau juga “salah satu ungkapan yang amat kaya tentang Asas Pengharapan”. Ini artinya agama telah memberikan pijakan sekaligus dorongan bagi perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Sementara itu Goldman, masih menurut Lowy, coba membandingkan—tanpa mencampuradukkan—antara iman agama dan kepercayaan Marxis: bahwa keduanya memiliki persaman menolak tegas individualisme murni (yang rasional maupun yang empiris), dan keduanya percaya pada nilai-nilai trans-individual—yakni Tuhan dalam ajaran agama dan masyarakat manusia dalam sosialisme.
Pada bab selanjutnya Lowy membuat defenisi tentang teologi pembebasan. Menurut Löwy, teologi pembebasan dapat dipandang sebagai “suatu gerakan”, “suatu doktrin”, dan “arus pada semua aras”. Sebagai gerakan, Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan telah ada sebagai pantulan pemikiran sekaligus cerminan dari keadaan nyata, suatu praxis yang sudah ada sebelum ada penulisan tentang teologi pembebasan itu sendiri. Sementara sebagai doktrin, buku ini menjabarkan beberapa ajaran dasar yang dapat ditemukan dalam tulisan para teolog pembebasan. Salah satu yang menarik dari doktrin tersebut adalah perlawanan atas pemberhalaan (jadi bukan ateisme) sebagai musuh utama agama—yakni menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun baru, Ceasar-Ceasar baru, dan Herodes-Herodes baru: Uang, Kekayaan, Kekuasaan, dan lain sejenisnya.
Keingintahuan pada asal-usul teologi pembebasan dapat terjawab pada bab ketiga. Di sini Löwycoba menjawab pertanyaan sebab munculnya teologi pembebasan yang mulai masif sebagai gerakan di tahun 1960-an. Terdapat dua pendapat para pakar sebelumnya yang dicantumkan Löwy. Pertama, yang melihat kemunculan gerakan ini sebagai “upaya gereja mempertahankan pengaruh” di kalangan rakyat (umat) miskin. Kedua, yang berpendapat bahwa lembaga gereja telah diambil-alih oleh rakyat miskin. Löwy mengkritik dua pendapat tersebut dan mengajukan pendapat sendiri. Bahwa gerakan ini muncul terutama karena adanya perubahan-perubahan di dalam maupun di luar gereja.

Konsep dan acuan berpikir
Bahwa gereja memiliki perhatian terhadap kaum miskin sama sekali bukan hal yang baru. Ini merujuk pada sejarah pendirian gereja sendiri, yang sudah berlangsung dua ribu tahun, yang pada awalnya lebih diterima oleh kaum miskin atau orang-orang yang tertindas. Tidak sedikit diantara para teolog pembebasan yang menginginkan agar gereja kembali ke khitah sebagai pembebas kaum tertindas. Mereka memberi perhatian penting pada bagian Kitab Keluaran “sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak”.
Dalam perjalanannya, gereja memang tetap memberi perhatian pada kaum miskin. Tapi pendekatan yang digunakan semata-mata bersifat kedermawanan atau cenderung paternalistik. Pendekatan ini yang ditentang dan diubah oleh teologi pembebasan. Salah satu doktrinnya menyebutkan:
“Orang-orang miskin tak boleh lagi terus-terusan menjadi sasaran kedermawanan, tetapi sebagai pelaku dari upaya pembebasan mereka sendiri. Bantuan atau pertolongan yang bersifat kebapakan harus digantikan dengan aksi kesetiakawanan bersama dalam perjuagan rakyat miskin untuk menentukan nasib sendiri.”
Oleh karena itu, Löwy menyimpulkan bahwa bagi para teolog pembebasan “Marxisme tampak sebagai suatu penjelasan yang sistematik, padat, dan menyeluruh mengenai sebab-sebab kemiskinan dan merupakan satu-satunya kesimpulan radikal yang memenuhi syarat untuk memberantas kemiskinan tersebut”.
Löwy tidak menampik adanya perbedaan-perbedaan antara marxisme dan teologi pembebasan. Sedikit di antaranya yang paling mendasar adalah soal-soal filsafat materialis, ideologi ateis, dan pemaknaan “agama sebagai candu rakyat”.Namun dalam banyak hal perbedaan tersebut lebih kepada perbedaan tafsir terhadap Marxisme. Bagi Gustavo Gutierrez, misalnya, Marxisme tidak semata menyediakan alat analisa ilmiah, tetapi juga suatu kehendak perubahan sosial yang utopis.
Ketika masuk ke dalam praxis politik, Löwy menilai apa yang dilakoni oleh para teolog pembebasan jauh lebih Marxis dibanding orang-orang yang mengklaim diri ‘Marxis murni’. Bahkan Löwy mempertanyakan kemampuan kaum ‘Marxis text-book’ dan ‘materialis kasar’ yang jauh ketinggalan dalam praxis dibandingkan para teolog pembebasan yang mampu membaca keadaan obyektifAmerika Latin sehingga membawa kemajuan luar biasa dalam gerakan sosial dan politik di Amerika Latin, termasuk dalam memenangkan revolusi Sandinista di Nicaragua.
Di sini disebutkan pula bahwa para filusuf teolog pembebasan cenderung mengecam pandangan kaum Marxis yang dinilai “terlalu ilmiah”, seperti Althusser. Mereka lebih tertarik pada “Marxisme Barat” yang sering disebut “Neo Marxisme” seperti Ernst Bloch. Namun tetap yang paling menginspirasi mereka adalah seorang Marxis Amerika Latin, Jose Carlos Mariategui, yang mengingatkan agar sosialisme di Amerika Latin tidak boleh menjadi suatu “tiruan murni” atau “salinan” saja dari pengalaman-pengalaman sosialisme yang sudah ada, tetapi lebih merupakkan suatu “hasil cipta perjuangan” sendiri. Bukankah ini mirip dengan pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Marhaenisme?

Para martir
Pada beberapa bagian dari buku ini pembaca dapat menemukan berbagai ulasan maupun kisah menarik seputar perjuangan politik rakyat yang melibatkan para uskup, pastor, suster, pendeta, tokoh agama, dan kaum awam. Nama-nama yang tidak asing lagi sebagai pentolan teologi pembebasan juga disebutkan dan secara singkat diulas di sini, seperti Gustavo Gutierrez, Frei Betto, uskup Dom Helder Camara, uskup Oscar Romero, dan lain-lain. Tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran melawan kekuasaan diktator atau ditangkap dan disiksa karena dukungan mereka terhadap gerakan politik.
Beberapa yang turut mengangkat senjata dan gugur dalam pertempuran melawan tentara diktator adalah Romo Camilo Torres di Kolombia dan Romo Gaspar Garcia Laviana di Nicaragua. Sementara banyak lain yang terbunuh karena aktifitas politiknya, seperti Romo Domingo Lain (1974), Romo Joao Bosco Penido Burnier (1976), Rutilio Grande (1977), dan Uskup Oscar Ramero (1980). Antara lain karena pengorbanan-pengorbanan ini sehingga Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan sama sekali bukan “siasat”atau “gerak tipu agamawan” menghadapi kemiskinan yang ada, melainkan suatu pemihakan rohani yang amat mendalam pada sebab-sebab perjuangan rakyat miskin.

Lenin dan Frei Betto
Di buku ini pula ada sebuah temuan menarik yang ingin saya bagikan secara khusus. Löwy secara tidak sengaja[?] mengambil dua kutipan dari dua orang yang berbeda dari rentang waktu yang juga berbeda, yakni Vladimir I. Lenin dan Frei Betto, seorang misionaris dari ordo Dominican. Dikisahkan suatu waktu Frei Betto ditangkap dan diinterogasi oleh seorang algojo rezim diktator yang terkenal bengis. Ia ditanya:
“Bagaimana seorang Kristen kok bisa bekerjasama dengan orang komunis?”
Betto menjawab:
“Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dan mereka yang ateis, tetapi dibagi antara mereka yang ditindas dan mereka yang menindas, antara mereka yang ingin mempertahankan tatanan masyarakat yang tidak adil ini dan mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan.”
Kutipan ini menarik karena pada bagian awal buku telah diambil sebuah kutipan lain dari Lenin tentang agama yang dapat ditemukan benang merahnya sebagai berikut:
“…persatuan dalam perjuangan revolusioner yang nyata dari kelas tertindas demi mencapai suatu surga di muka bumi adalah jauh lebih pennting ketimbang kesatuan pendapat kaum proletar tentang surga yang akan datang nanti di akhirat.”
Bisa jadi Frei Betto terilhami oleh tulisan Lenin ketika menjawab pertanyaan sang algoju. Namun kesamaan pandangan ini setidaknya telah memperjelas suatu kedekatan yang begitu erat antara Marxisme dan Teologi Pembebasan. Tidak heran bila pada akhir tulisannya Löwybersepakat dengan banyak kalangan di Amerika Latin yang menyatakan bahwa hubungan antara gerakan Marxis dan Teologi Pembebasan bukan hanya sebatas taktis untuk memenangkan suatu pertempuran tertentu, tetapi sesuatu yang organik.
Akhirnya, menurut Löwy, beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut antara teologi pembebasan dan Marxis bukan lagi dasar filosofis (idealis revolusioner dan materialisme dialektik), melainkan adalah pada soal-soal yang masih sensitif bagi kalangan gereja, seperti persoalan pengguguran kandungan, penggunaan alat kontrasepsi, dan peran atau posisi sosial perempuan secara lebih luas.
Pada akhirnya, buku berisi 155 halaman ini kaya akan berbagai ulasan lain terkait teologi pembebasan yang tentu saja tidak ditulis sepenuhnya dalam resensi ini. Selain itu terdapat suplemen sebuah risalah dari Frei Betto yang mengupas hubungan antara Teologi dan Marxisme.

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/33988-2/#ixzz43QDvxd3s
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Inisiatif

Oleh: Hasanudin Abdurakhman


Dalam beberapa rapat manajemen yang kami lakukan setiap bulan, sesekali kami berdiskusi tentang kondisi sumber daya manusia di perusahaan grup kami. Biasanya muncul keluhan orang-orang Jepang soal kualitas orang kita.
Kebetulan saya satu-satunya orang Indonesia dalam forum ini. Ini adalah forum yang anggotanya adalah para presiden direktur perusahaan grup kami (ada 12 perusahaan), ditambah direktur di perusahaan holding. Semua orang Jepang.
Salah satu hal yang mereka keluhkan adalah soal rendahnya inisiatif. “Shiji machi,” kata mereka. Artinya banyak orang yang hanya menunggu perintah, kalau tidak diperintah tidak bergerak. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya.
Orang seperti ini memang akan jadi beban organisasi. Seorang pemimpin tidak akan sanggup memikirkan segala aspek pekerjaan organisasinya sampai detil. Bawahannya harus mengambil inisiatif, menerjemahkan arah kebijakan pemimpin ke tingkat yang lebih detil dan mengeksekusinya.
Tanpa hal itu, semua beban pikiran akan bertumpu pada pemimpin seorang saja. Kalau sudah begini, organisasi tidak akan berjalan dengan baik.
Apa itu inisiatif? Kata ini berasal dari bahasa Inggris, to initiate, artinya memulai. Mengambil inisiatif artinya memulai suatu tindakan.
Dalam hal organisasi tindakan yang kita mulai bisa merupakan sesuatu yang sama sekali baru, tapi tidak harus selalu begitu. Inisiatif dalam pengertian yang kedua bisa bermakna sebagai penjabaran strategi/kebijakan yang sudah ada.
Bagaimana mengambil inisiatif? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami organisasi tempat kita bekerja, lalu memahami posisi dan peran kita dalam organisasi tersebut.
Mengambil inisiatif bukan berarti kita boleh asal bertindak, yang penting memulai sesuatu. Berinisiatif artinya bertindak selaras dengan tujuan organisasi, dan sesuai dengan fungsi dan wewenang kita.
Pengetahuan tentang organisasi serta peran kita akan memastikan tindakan yang kita mulai sesuai dengan kebutuhan, serta memberi kita panduan tentang batas yang tidak boleh kita lampaui.
Yang kedua adalah hal yang lebih teknis, yaitu memahami arahan dari pimpinan. Peran kita adalah menerjemahkan arahan itu menjadi tindakan-tindakan di lapangan. Inisiatif bermakna, kita menerjemahkannya menjadi rencana tindakan yang lebih detil serta mengeksekusinya.
Tapi inisiatif bisa pula bermakna bahwa kita memperpanjang garis vektor yang sudah digambarkan oleh pimpinan. Ingat, kita hanya memperpanjang garis itu, bukan membelokkannya ke arah lain.
Kita pun harus waspada, ada batas yang tidak boleh kita lewati. Jangan mememperpanjang garis terlalu jauh.
Bolehkah kita membelokkan arah garis kebijakan? Sampai di mana batas kita dalam menarik garis perpanjangan tadi? Dalam hal ini manajemen Jepang punya konsep yang disebut horenso.
Horenso adalah nama sayur, sejenis bayam. Tapi dalam hal ini horenso adalah singkatan, hokoku (lapor), renraku (kontak), sodan (konsultasi/diskusi). Boleh saja kita berinisiatif membelukkan arah garis kebijakan yang diberikan atasan kita, tapi kita perlu berkonsultasi dengan dia.
Kita juga harus tahu sampai di mana kita harus berhenti, atau di mana kita harus belok lagi. Dalam hal ini horenso, komunikasi dengan atasan, juga dengan anggota tim yang lain harus terus dilakukan.
 Ada beberapa sikap praktis yang bisa kita kembangkan untuk membangun inisiatif.
Terus bekerja dan berpikir untuk mencari solusi. Jangan pernah menyerah ketika usaha yang kita lakukan belum mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Hanya dengan mencoba melalui berbagai cara kita akan menjadi lebih kreatif dengan berbagai ide. Ingat, ide bisa menjadi kontribusi yang paling mahal bagi organisasi.
Biasakan untuk bekerja lebih. Ini terkait dengan memperpanjang garis vektor tadi. Biasakan untuk mengerjakan lebih dari garis arahan yang diberikan pada kita.
Berpikirlah sebagai anggota tim. Kita tidak bekerja sendiri dalam organisasi. Mengambil inisiatif bisa bermakna membaca posisi posisi sejawat, lalu kita menentukan tempat kita berdiri, untuk mengambil peran di situ. Persis seperti pemain sepak bola yang memilih tempat untuk menerima umpan, mengopernya kepada anggota tim lain, atau menendangnya ke gawang lawan.
Biasakan untuk berbagi gagasan dan berdiskusi. Berinisiatif bisa bermakna mempengaruhi orang lain untuk menuju pada suatu arah tertentu. Menyebarkan gagasan tentang apa yang akan atau sedang kita lakukan, mengajak orang melakukannya bersama, adalah hal penting. Bila ini berhasil dilakukan, maka kita akan mendapatkan energi yang lebih banyak untuk mewujudkannya.
Pertimbangkan setiap kesempatan. Solusi untuk berbagai masalah boleh jadi tersembunyi di berbagai tempat. Bila kita tidak mencoba, mungkin kita tidak akan pernah sampai kepada solusi tersebut.
Selalu menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga kita selalu siap untuk penugasan baru, atau menyelesaikan masalah baru.

Bertanggung jawablah. Selesaikan apa yang telah Anda mulai. Bertanggung jawablah terhadap hasilnya, baik atau buruk. Jangan hanya mengklaim bisa hasil baik, dan menghindar bila ternyata hasilnya buruk. Hasil buruk tidak perlu ditangisi, tapi harus dijadikan bahan evaluasi untuk berbuat lebih baik lagi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/15/140932626/Inisiatif

Ingin Pasangan Berhenti Merokok? Ini yang Harus Dilakukan

KOMPAS.com - Para peneliti di University of Aberdeen, UK menemukan, bila seseorang ingin pasangannya berhasil berhenti merokok, yang perlu dilakukan ialah menghentikan omelan atau sindirian dan mulailah untuk mendukungnya.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Health Psychology tersebut, Dr Gertraud Stadler bekerja sama dengan Dr Urte Scholz dari Universitas Zurich untuk melihat perilaku 100 pasangan, yang termasuk perokok dan non-perokok.
Tim peneliti meminta semua pasangan untuk membuat dan menulis buku harian menggunakan ponsel selama sepuluh hari sebelum pasangannya mulai berhenti merokok, dan juga selama 21 hari setelah pasangannya memutuskan untuk berhenti. Partner yang merokok juga diminta untuk mencatat jumlah rokok yang dihisap setiap hari.
Hasil penelitian menunjukkan, perokok yang memiliki pasangan yang menawarkan dukungan fisik dan emosional serta dorongan agar mereka berhenti merokok lebih mungkin untuk berhasil berhenti merokok ketimbang perokok yang memiliki pasangan yang hanya mengomel dan tidak memberi dukungan nyata.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dukungan ini jauh lebih dibutuhkan setelah para perokok memutuskan untuk berhenti. Masa ketika perokok menjalankan kebiasaan sehat baru, bantuan ekstra dari pasangan sangatlah dibutuhkan.
"Ada banyak hal yang tidak akan membantu perokok untuk berhenti, seperti mengomel atau mencoba untuk mengendalikan situasi," komentar Dr Stadler.
"Hasil ini menunjukkan bahwa kita harus menawarkan dukungan emosional serta bantuan fisik layaknya mengurus anak-anak. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu orang lain berhenti merokok."
Penelitian sebelumnya telah menganalisa beberapa metode yang terbukti lebih efektif. Menurut sebuah studi di tahun 2015, iklan anti-rokok dan kampanye kesehatan masyarakat ternyata memiliki efek berlawanan pada perokok.
Alih-alih ingin mengurangi jumlah perokok, para perokok cenderung merasa defensif dan marah sehingga tidak mau berhenti.
Dan sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu dalam jurnal Communication Research juga menemukan bahwa gambar penyakit pada kemasan rokok dapat memiliki efek berlawanan yang sama.
Sebuah 2015 yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menemukan bahwa terapi perilaku suportif seperti sesi bimbingan adalah yang paling efektif, bila digunakan sendiri atau bersama obat pengganti nikotin.
Dukungan melalui ponsel pintar juga bisa menjadi efektif, seperti studi dari program yang disebut Text2Quit, di mana perokok menerima dukungan rutin melalui pesan berisi motivasi. Ini membantu sekitar 11 persen perokok untuk berhenti.

Editor  : Bestari Kumala Dewi
Sumber            : Yahoo News

"Home Treatment" Ini Bantu Redakan Alergi

KOMPAS.com - Alergi adalah sebuah kondisi di mana tubuh memiliki respon yang berlebihan terhadap suatu zat tertentu. Gejala alergi bisa sangat mengganggu kenyamanan, seperti gatal-gatal, hidung mampat, bersin dan mata berair.
Pada beberapa kasus, alergi berat, terutama yang mengganggu pernapasam, bisa menyebabkan kematian. Redakan gejala-gejala alergi dengan cara yang sederhana di bawah ini, dan sebisa mungkin hindari benda atau zat yang membuat alergi Anda kambuh.

Makan bawang merah dan putih
Keduanya kaya akan quercetin, antioksidan yang mencegah sel melepas histamin. Histamin adalah senyawa nitrogen organik lokal yang terlibat dalam respon imun. Sistem imun akan bereaksi ketika penderita alergi terpapar oleh zat alergen.

Berciuman
Sebuah penelitian baru menemukan, bahwa orang yang menderita gejala alergi memiliki tingkat penanda reaksi alergi yang rendah.
Namun, setelah mereka berciuman bibir dengan mesra, penanda reaksi tersebut meningkat. Bermesraan bisa meringankan peradangan yang disebabkan oleh stres dan mengurangi gejala alergi.

Minum teh hijau
Para peneliti dari Kyushu University di Jepang menemukan, bahwa senyawa dalam teh hijau yang disebut EGCG dapat menghalangi produksi histamin dan IgE yang diproduksi tubuh saat alergi kambih. Anda bisa minum teh hijau hangat, agar gejala alergi segera lenyap.

Bersihkan rumah
Setiap kali Anda masuk rumah, Anda membawa debu dan serbuk sari, yang dapat menyebabkan banyak gejala alergi. "Lepaskan sepatu Anda sebelum atau segera setelah masuk rumah," kata Howard. Sapu dan pel lantai Anda setidaknya sekali sehari.

Komsumsi vitamin C
Vitamin C adalah antihistamin yang telah terbukti secara ilmiah. "Selama musim alergi, saya memberitahu pasien saya untuk mengonsumsi 1.000 sampai 2.000 miligram vitamin C setiap hari," kata Martha Howard, gelar M.D., dokter pemgobatan integratif di Wellness Associates of Chicago.

Editor  : Bestari Kumala Dewi
Sumber            : Shape
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Media Text

Media Text

Profil Text

Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.

 

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor

Flag Counter

Music Papua

Post Populer

 

Templates by Kidox Van Waikato | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger