Se Kalimat "Coretan Tinta Merah" Akan Mengukir Seribu Makna Dalam Segala Fenomena Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label ilustrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Perjuangan Meraih Kesuksesan

“A brief note”

Ilustrasi
Siapapun pasti ingin sukses. Karena dengan kesuksesan, orang akan berpikir bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Menuju puncak kebahagian merupakan impian semua orang. Setiap orang berbeda dalam mengartikan sukses dalam hidupnya. Apa arti sukses menurut Anda? banyak orang yang menganggap arti sukses sebagai pada saat kita wisuda, pada saat naik jabatan, atau pada saat menerima penobatan sebagai orang teladan, orang terpandai. Boleh dikatakan sukses, tetapi menurut saya itu bukan akhir dari sukses tetapi merupakan bagian dari sukses.
Kita tekad menjadi sukses dalam pengertian ini adalah karena sebuah keputusan yang kita buat untuk melakukan hal yang tepat mulai hari ini, mulai saat ini dan detik ini, dengan keputusan yang kita buat untuk melakukan suatu kegiatan secara rutin dan konsisten, maka saya yakin pada suatu hari kita akan di beri penghargaan sebagai orang sukses terhadap apa yang sedang kita lakukan tersebut. Sukses itu bukan hasil akhir, sukses itu adalah hasil perjuangan selama kita masih hidup (proses). Maka kesuksesan yang sesungguhnya dapat peroleh akan datang; bila kita sudah bekerja keras dan sabar serta meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa.
Dalam perjuangan meraih kesuksesan tentunya banyak hal yang akan kita alami dan lewati, baik; suka-duka, lapar-haus bahagia, ke kampus jalan kaki mandi keringat dan lainnya. Dan hal ini tentunya sebagai manusia harus lewati dinamika kehidupan ini, sebab dalam sejarah hidup Manusia, tidak pernah ada kesuksesan itu datang sendiri tanpa perjuangan.   
Para Ahli telah mendefinisikan arti sukses, Namun, bagi saya lebih menarik arti kesuksesan yang dikemukakan oleh D. Paul Reilly dalam bukunya Succes is simple (1977) mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga. Karena sekecil apapun yang kita usaha, tentunya sangat berharga bagi banyak orang di masa yang akan datang.
Saya mengulas sedikit tentang pengalaman hidup dan harapannya para pembaca dapat memaknai arti dari tulisan ini; agar lebih mengenal apa yang dimaksud dengan kesuksesan itu. Dan sebagai akhir dari catatan singkat ini saya mendefininisikan “Sukses itu bukan suatu tujuan akhir dengan kualitas seadanya, tetapi sebagai suatu proses yang harus di lakukan tahap demi tahap, dan hari demi hari”. Dengan demikian, Apa yang menjadi dambaan bagi kita akan menuai hasilnya di kemudian hari, sesuai dengan hasil perjuangan kita.


Sabtu, 19 Maret 2016

Teologi Pembebasan: Titik Temu Agama Dan Marxisme?

“Orang-orang borjuislah yang telah memutarbalikkan agama menjadi candu bagi rakyat dengan mengkotbahkan adanya Tuhan yang cuma bertahta di surga, sementara itu mereka meraup semua isi bumi ini untuk dirinya sendiri.” – Pastor Frei Betto

Bila ada di kalangan kaum Marxis yang masih memusuhi agama secara membabi-buta, atau sebaliknya, pemeluk agama yang masih penuh prasangka terhadap marxisme, buku ini kiranya dapat memberikan pencerahan-pencerahan. Setidaknya bagi saya, peresensi, buku ini memberikan jawaban atas banyak pertanyaan yang kerap muncul, baik dalam pikiran sendiri maupun dalam diskusi-diskusi.
Contoh-contoh dan konteks penulisan buku ini memang lebih mengacu pada pengalaman gerakan teologi pembebasan di negeri yang mayoritas penganut agama Kristen atau Katolik. Namun dari sini dapat pula dibuat perbandingan terhadap praktek teologi pembebasan pada agama lain, misalnya dengan mengacu pada pemikiran Asghar Ali Engineer atau Haji Misbach dalam Islam.

DATA BUKU
Judul Buku : Teologi Pembebasan – Kritik Marxisme & Marxisme Kritis
Penulis : Michael Löwy
Penerbit : INSISTpress, Yogyakarta
Tahun terbit : Cetakan ke-2, Maret 2013

“Teologi Pembebasan, Kritik Marxisme & Marxisme Kritis” adalah buku karya Michael Löwy, seorang intelektual Marxis yang pernah memenangkan penghargaan prestisius dari dunia akademis PrancisCentre National de la Recherche Scientifique (CNRS). Löwy melakukan kajian yang relatif lengkap mengenai topik ini dengan memaparkan aspek filosofis, konteks situasi sosial, dan aktor atau komponen yang terlibat di dalamnya.

Para pemikir
Pada bagian bagian awal, Löwy membahas pandangan tokoh-tokoh atau pemikir Marxis mengenai hal keagamaan. Di sini pemikiran tokoh-tokoh tersebut diulas satu per satu; mulai dari Karl Marx sendiri, Frederich Engels, Lenin, Kautsky, Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci, sampai dengan Lucien Goldman dan Ernst Bloch. Masing-masing dari mereka punya metode pendekatan sendiri terhadap keberadaan agama. Namun, pemikiran yang dinilai paling kontekstual dalam hubungan dengan teologi pembebasan adalah metode pendekatan yang digunakan oleh Goldman dan Bloch.
Baik Goldman maupun Bloch, menurut Lowy, menaruh minat dalam hal menyelamatkan nilai kemanusiaan dan moral dari tradisi agama. Bloch tidak bersepakat dengan pandangan sebagian kaum marxis yang memandang agama semata-mata sebagai “selubung bagi kepentingan kelas”. Bagi Bloch, dalam berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah “salah satu bentuk penting kesadaran utopia”, atau juga “salah satu ungkapan yang amat kaya tentang Asas Pengharapan”. Ini artinya agama telah memberikan pijakan sekaligus dorongan bagi perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Sementara itu Goldman, masih menurut Lowy, coba membandingkan—tanpa mencampuradukkan—antara iman agama dan kepercayaan Marxis: bahwa keduanya memiliki persaman menolak tegas individualisme murni (yang rasional maupun yang empiris), dan keduanya percaya pada nilai-nilai trans-individual—yakni Tuhan dalam ajaran agama dan masyarakat manusia dalam sosialisme.
Pada bab selanjutnya Lowy membuat defenisi tentang teologi pembebasan. Menurut Löwy, teologi pembebasan dapat dipandang sebagai “suatu gerakan”, “suatu doktrin”, dan “arus pada semua aras”. Sebagai gerakan, Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan telah ada sebagai pantulan pemikiran sekaligus cerminan dari keadaan nyata, suatu praxis yang sudah ada sebelum ada penulisan tentang teologi pembebasan itu sendiri. Sementara sebagai doktrin, buku ini menjabarkan beberapa ajaran dasar yang dapat ditemukan dalam tulisan para teolog pembebasan. Salah satu yang menarik dari doktrin tersebut adalah perlawanan atas pemberhalaan (jadi bukan ateisme) sebagai musuh utama agama—yakni menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun baru, Ceasar-Ceasar baru, dan Herodes-Herodes baru: Uang, Kekayaan, Kekuasaan, dan lain sejenisnya.
Keingintahuan pada asal-usul teologi pembebasan dapat terjawab pada bab ketiga. Di sini Löwycoba menjawab pertanyaan sebab munculnya teologi pembebasan yang mulai masif sebagai gerakan di tahun 1960-an. Terdapat dua pendapat para pakar sebelumnya yang dicantumkan Löwy. Pertama, yang melihat kemunculan gerakan ini sebagai “upaya gereja mempertahankan pengaruh” di kalangan rakyat (umat) miskin. Kedua, yang berpendapat bahwa lembaga gereja telah diambil-alih oleh rakyat miskin. Löwy mengkritik dua pendapat tersebut dan mengajukan pendapat sendiri. Bahwa gerakan ini muncul terutama karena adanya perubahan-perubahan di dalam maupun di luar gereja.

Konsep dan acuan berpikir
Bahwa gereja memiliki perhatian terhadap kaum miskin sama sekali bukan hal yang baru. Ini merujuk pada sejarah pendirian gereja sendiri, yang sudah berlangsung dua ribu tahun, yang pada awalnya lebih diterima oleh kaum miskin atau orang-orang yang tertindas. Tidak sedikit diantara para teolog pembebasan yang menginginkan agar gereja kembali ke khitah sebagai pembebas kaum tertindas. Mereka memberi perhatian penting pada bagian Kitab Keluaran “sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak”.
Dalam perjalanannya, gereja memang tetap memberi perhatian pada kaum miskin. Tapi pendekatan yang digunakan semata-mata bersifat kedermawanan atau cenderung paternalistik. Pendekatan ini yang ditentang dan diubah oleh teologi pembebasan. Salah satu doktrinnya menyebutkan:
“Orang-orang miskin tak boleh lagi terus-terusan menjadi sasaran kedermawanan, tetapi sebagai pelaku dari upaya pembebasan mereka sendiri. Bantuan atau pertolongan yang bersifat kebapakan harus digantikan dengan aksi kesetiakawanan bersama dalam perjuagan rakyat miskin untuk menentukan nasib sendiri.”
Oleh karena itu, Löwy menyimpulkan bahwa bagi para teolog pembebasan “Marxisme tampak sebagai suatu penjelasan yang sistematik, padat, dan menyeluruh mengenai sebab-sebab kemiskinan dan merupakan satu-satunya kesimpulan radikal yang memenuhi syarat untuk memberantas kemiskinan tersebut”.
Löwy tidak menampik adanya perbedaan-perbedaan antara marxisme dan teologi pembebasan. Sedikit di antaranya yang paling mendasar adalah soal-soal filsafat materialis, ideologi ateis, dan pemaknaan “agama sebagai candu rakyat”.Namun dalam banyak hal perbedaan tersebut lebih kepada perbedaan tafsir terhadap Marxisme. Bagi Gustavo Gutierrez, misalnya, Marxisme tidak semata menyediakan alat analisa ilmiah, tetapi juga suatu kehendak perubahan sosial yang utopis.
Ketika masuk ke dalam praxis politik, Löwy menilai apa yang dilakoni oleh para teolog pembebasan jauh lebih Marxis dibanding orang-orang yang mengklaim diri ‘Marxis murni’. Bahkan Löwy mempertanyakan kemampuan kaum ‘Marxis text-book’ dan ‘materialis kasar’ yang jauh ketinggalan dalam praxis dibandingkan para teolog pembebasan yang mampu membaca keadaan obyektifAmerika Latin sehingga membawa kemajuan luar biasa dalam gerakan sosial dan politik di Amerika Latin, termasuk dalam memenangkan revolusi Sandinista di Nicaragua.
Di sini disebutkan pula bahwa para filusuf teolog pembebasan cenderung mengecam pandangan kaum Marxis yang dinilai “terlalu ilmiah”, seperti Althusser. Mereka lebih tertarik pada “Marxisme Barat” yang sering disebut “Neo Marxisme” seperti Ernst Bloch. Namun tetap yang paling menginspirasi mereka adalah seorang Marxis Amerika Latin, Jose Carlos Mariategui, yang mengingatkan agar sosialisme di Amerika Latin tidak boleh menjadi suatu “tiruan murni” atau “salinan” saja dari pengalaman-pengalaman sosialisme yang sudah ada, tetapi lebih merupakkan suatu “hasil cipta perjuangan” sendiri. Bukankah ini mirip dengan pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Marhaenisme?

Para martir
Pada beberapa bagian dari buku ini pembaca dapat menemukan berbagai ulasan maupun kisah menarik seputar perjuangan politik rakyat yang melibatkan para uskup, pastor, suster, pendeta, tokoh agama, dan kaum awam. Nama-nama yang tidak asing lagi sebagai pentolan teologi pembebasan juga disebutkan dan secara singkat diulas di sini, seperti Gustavo Gutierrez, Frei Betto, uskup Dom Helder Camara, uskup Oscar Romero, dan lain-lain. Tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran melawan kekuasaan diktator atau ditangkap dan disiksa karena dukungan mereka terhadap gerakan politik.
Beberapa yang turut mengangkat senjata dan gugur dalam pertempuran melawan tentara diktator adalah Romo Camilo Torres di Kolombia dan Romo Gaspar Garcia Laviana di Nicaragua. Sementara banyak lain yang terbunuh karena aktifitas politiknya, seperti Romo Domingo Lain (1974), Romo Joao Bosco Penido Burnier (1976), Rutilio Grande (1977), dan Uskup Oscar Ramero (1980). Antara lain karena pengorbanan-pengorbanan ini sehingga Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan sama sekali bukan “siasat”atau “gerak tipu agamawan” menghadapi kemiskinan yang ada, melainkan suatu pemihakan rohani yang amat mendalam pada sebab-sebab perjuangan rakyat miskin.

Lenin dan Frei Betto
Di buku ini pula ada sebuah temuan menarik yang ingin saya bagikan secara khusus. Löwy secara tidak sengaja[?] mengambil dua kutipan dari dua orang yang berbeda dari rentang waktu yang juga berbeda, yakni Vladimir I. Lenin dan Frei Betto, seorang misionaris dari ordo Dominican. Dikisahkan suatu waktu Frei Betto ditangkap dan diinterogasi oleh seorang algojo rezim diktator yang terkenal bengis. Ia ditanya:
“Bagaimana seorang Kristen kok bisa bekerjasama dengan orang komunis?”
Betto menjawab:
“Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dan mereka yang ateis, tetapi dibagi antara mereka yang ditindas dan mereka yang menindas, antara mereka yang ingin mempertahankan tatanan masyarakat yang tidak adil ini dan mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan.”
Kutipan ini menarik karena pada bagian awal buku telah diambil sebuah kutipan lain dari Lenin tentang agama yang dapat ditemukan benang merahnya sebagai berikut:
“…persatuan dalam perjuangan revolusioner yang nyata dari kelas tertindas demi mencapai suatu surga di muka bumi adalah jauh lebih pennting ketimbang kesatuan pendapat kaum proletar tentang surga yang akan datang nanti di akhirat.”
Bisa jadi Frei Betto terilhami oleh tulisan Lenin ketika menjawab pertanyaan sang algoju. Namun kesamaan pandangan ini setidaknya telah memperjelas suatu kedekatan yang begitu erat antara Marxisme dan Teologi Pembebasan. Tidak heran bila pada akhir tulisannya Löwybersepakat dengan banyak kalangan di Amerika Latin yang menyatakan bahwa hubungan antara gerakan Marxis dan Teologi Pembebasan bukan hanya sebatas taktis untuk memenangkan suatu pertempuran tertentu, tetapi sesuatu yang organik.
Akhirnya, menurut Löwy, beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut antara teologi pembebasan dan Marxis bukan lagi dasar filosofis (idealis revolusioner dan materialisme dialektik), melainkan adalah pada soal-soal yang masih sensitif bagi kalangan gereja, seperti persoalan pengguguran kandungan, penggunaan alat kontrasepsi, dan peran atau posisi sosial perempuan secara lebih luas.
Pada akhirnya, buku berisi 155 halaman ini kaya akan berbagai ulasan lain terkait teologi pembebasan yang tentu saja tidak ditulis sepenuhnya dalam resensi ini. Selain itu terdapat suplemen sebuah risalah dari Frei Betto yang mengupas hubungan antara Teologi dan Marxisme.

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/33988-2/#ixzz43QDvxd3s
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Inisiatif

Oleh: Hasanudin Abdurakhman


Dalam beberapa rapat manajemen yang kami lakukan setiap bulan, sesekali kami berdiskusi tentang kondisi sumber daya manusia di perusahaan grup kami. Biasanya muncul keluhan orang-orang Jepang soal kualitas orang kita.
Kebetulan saya satu-satunya orang Indonesia dalam forum ini. Ini adalah forum yang anggotanya adalah para presiden direktur perusahaan grup kami (ada 12 perusahaan), ditambah direktur di perusahaan holding. Semua orang Jepang.
Salah satu hal yang mereka keluhkan adalah soal rendahnya inisiatif. “Shiji machi,” kata mereka. Artinya banyak orang yang hanya menunggu perintah, kalau tidak diperintah tidak bergerak. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya.
Orang seperti ini memang akan jadi beban organisasi. Seorang pemimpin tidak akan sanggup memikirkan segala aspek pekerjaan organisasinya sampai detil. Bawahannya harus mengambil inisiatif, menerjemahkan arah kebijakan pemimpin ke tingkat yang lebih detil dan mengeksekusinya.
Tanpa hal itu, semua beban pikiran akan bertumpu pada pemimpin seorang saja. Kalau sudah begini, organisasi tidak akan berjalan dengan baik.
Apa itu inisiatif? Kata ini berasal dari bahasa Inggris, to initiate, artinya memulai. Mengambil inisiatif artinya memulai suatu tindakan.
Dalam hal organisasi tindakan yang kita mulai bisa merupakan sesuatu yang sama sekali baru, tapi tidak harus selalu begitu. Inisiatif dalam pengertian yang kedua bisa bermakna sebagai penjabaran strategi/kebijakan yang sudah ada.
Bagaimana mengambil inisiatif? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami organisasi tempat kita bekerja, lalu memahami posisi dan peran kita dalam organisasi tersebut.
Mengambil inisiatif bukan berarti kita boleh asal bertindak, yang penting memulai sesuatu. Berinisiatif artinya bertindak selaras dengan tujuan organisasi, dan sesuai dengan fungsi dan wewenang kita.
Pengetahuan tentang organisasi serta peran kita akan memastikan tindakan yang kita mulai sesuai dengan kebutuhan, serta memberi kita panduan tentang batas yang tidak boleh kita lampaui.
Yang kedua adalah hal yang lebih teknis, yaitu memahami arahan dari pimpinan. Peran kita adalah menerjemahkan arahan itu menjadi tindakan-tindakan di lapangan. Inisiatif bermakna, kita menerjemahkannya menjadi rencana tindakan yang lebih detil serta mengeksekusinya.
Tapi inisiatif bisa pula bermakna bahwa kita memperpanjang garis vektor yang sudah digambarkan oleh pimpinan. Ingat, kita hanya memperpanjang garis itu, bukan membelokkannya ke arah lain.
Kita pun harus waspada, ada batas yang tidak boleh kita lewati. Jangan mememperpanjang garis terlalu jauh.
Bolehkah kita membelokkan arah garis kebijakan? Sampai di mana batas kita dalam menarik garis perpanjangan tadi? Dalam hal ini manajemen Jepang punya konsep yang disebut horenso.
Horenso adalah nama sayur, sejenis bayam. Tapi dalam hal ini horenso adalah singkatan, hokoku (lapor), renraku (kontak), sodan (konsultasi/diskusi). Boleh saja kita berinisiatif membelukkan arah garis kebijakan yang diberikan atasan kita, tapi kita perlu berkonsultasi dengan dia.
Kita juga harus tahu sampai di mana kita harus berhenti, atau di mana kita harus belok lagi. Dalam hal ini horenso, komunikasi dengan atasan, juga dengan anggota tim yang lain harus terus dilakukan.
 Ada beberapa sikap praktis yang bisa kita kembangkan untuk membangun inisiatif.
Terus bekerja dan berpikir untuk mencari solusi. Jangan pernah menyerah ketika usaha yang kita lakukan belum mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Hanya dengan mencoba melalui berbagai cara kita akan menjadi lebih kreatif dengan berbagai ide. Ingat, ide bisa menjadi kontribusi yang paling mahal bagi organisasi.
Biasakan untuk bekerja lebih. Ini terkait dengan memperpanjang garis vektor tadi. Biasakan untuk mengerjakan lebih dari garis arahan yang diberikan pada kita.
Berpikirlah sebagai anggota tim. Kita tidak bekerja sendiri dalam organisasi. Mengambil inisiatif bisa bermakna membaca posisi posisi sejawat, lalu kita menentukan tempat kita berdiri, untuk mengambil peran di situ. Persis seperti pemain sepak bola yang memilih tempat untuk menerima umpan, mengopernya kepada anggota tim lain, atau menendangnya ke gawang lawan.
Biasakan untuk berbagi gagasan dan berdiskusi. Berinisiatif bisa bermakna mempengaruhi orang lain untuk menuju pada suatu arah tertentu. Menyebarkan gagasan tentang apa yang akan atau sedang kita lakukan, mengajak orang melakukannya bersama, adalah hal penting. Bila ini berhasil dilakukan, maka kita akan mendapatkan energi yang lebih banyak untuk mewujudkannya.
Pertimbangkan setiap kesempatan. Solusi untuk berbagai masalah boleh jadi tersembunyi di berbagai tempat. Bila kita tidak mencoba, mungkin kita tidak akan pernah sampai kepada solusi tersebut.
Selalu menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga kita selalu siap untuk penugasan baru, atau menyelesaikan masalah baru.

Bertanggung jawablah. Selesaikan apa yang telah Anda mulai. Bertanggung jawablah terhadap hasilnya, baik atau buruk. Jangan hanya mengklaim bisa hasil baik, dan menghindar bila ternyata hasilnya buruk. Hasil buruk tidak perlu ditangisi, tapi harus dijadikan bahan evaluasi untuk berbuat lebih baik lagi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/15/140932626/Inisiatif
Postingan Lama Beranda

Media Text

Media Text

Profil Text

Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.

 

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor

Flag Counter

Music Papua

Post Populer

 

Templates by Kidox Van Waikato | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger