Se Kalimat "Coretan Tinta Merah" Akan Mengukir Seribu Makna Dalam Segala Fenomena Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label ilustrasidanopini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasidanopini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Perjuangan Meraih Kesuksesan

“A brief note”

Ilustrasi
Siapapun pasti ingin sukses. Karena dengan kesuksesan, orang akan berpikir bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Menuju puncak kebahagian merupakan impian semua orang. Setiap orang berbeda dalam mengartikan sukses dalam hidupnya. Apa arti sukses menurut Anda? banyak orang yang menganggap arti sukses sebagai pada saat kita wisuda, pada saat naik jabatan, atau pada saat menerima penobatan sebagai orang teladan, orang terpandai. Boleh dikatakan sukses, tetapi menurut saya itu bukan akhir dari sukses tetapi merupakan bagian dari sukses.
Kita tekad menjadi sukses dalam pengertian ini adalah karena sebuah keputusan yang kita buat untuk melakukan hal yang tepat mulai hari ini, mulai saat ini dan detik ini, dengan keputusan yang kita buat untuk melakukan suatu kegiatan secara rutin dan konsisten, maka saya yakin pada suatu hari kita akan di beri penghargaan sebagai orang sukses terhadap apa yang sedang kita lakukan tersebut. Sukses itu bukan hasil akhir, sukses itu adalah hasil perjuangan selama kita masih hidup (proses). Maka kesuksesan yang sesungguhnya dapat peroleh akan datang; bila kita sudah bekerja keras dan sabar serta meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa.
Dalam perjuangan meraih kesuksesan tentunya banyak hal yang akan kita alami dan lewati, baik; suka-duka, lapar-haus bahagia, ke kampus jalan kaki mandi keringat dan lainnya. Dan hal ini tentunya sebagai manusia harus lewati dinamika kehidupan ini, sebab dalam sejarah hidup Manusia, tidak pernah ada kesuksesan itu datang sendiri tanpa perjuangan.   
Para Ahli telah mendefinisikan arti sukses, Namun, bagi saya lebih menarik arti kesuksesan yang dikemukakan oleh D. Paul Reilly dalam bukunya Succes is simple (1977) mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan atau cita-cita yang berharga. Karena sekecil apapun yang kita usaha, tentunya sangat berharga bagi banyak orang di masa yang akan datang.
Saya mengulas sedikit tentang pengalaman hidup dan harapannya para pembaca dapat memaknai arti dari tulisan ini; agar lebih mengenal apa yang dimaksud dengan kesuksesan itu. Dan sebagai akhir dari catatan singkat ini saya mendefininisikan “Sukses itu bukan suatu tujuan akhir dengan kualitas seadanya, tetapi sebagai suatu proses yang harus di lakukan tahap demi tahap, dan hari demi hari”. Dengan demikian, Apa yang menjadi dambaan bagi kita akan menuai hasilnya di kemudian hari, sesuai dengan hasil perjuangan kita.


Sabtu, 19 Maret 2016

Teologi Pembebasan: Titik Temu Agama Dan Marxisme?

“Orang-orang borjuislah yang telah memutarbalikkan agama menjadi candu bagi rakyat dengan mengkotbahkan adanya Tuhan yang cuma bertahta di surga, sementara itu mereka meraup semua isi bumi ini untuk dirinya sendiri.” – Pastor Frei Betto

Bila ada di kalangan kaum Marxis yang masih memusuhi agama secara membabi-buta, atau sebaliknya, pemeluk agama yang masih penuh prasangka terhadap marxisme, buku ini kiranya dapat memberikan pencerahan-pencerahan. Setidaknya bagi saya, peresensi, buku ini memberikan jawaban atas banyak pertanyaan yang kerap muncul, baik dalam pikiran sendiri maupun dalam diskusi-diskusi.
Contoh-contoh dan konteks penulisan buku ini memang lebih mengacu pada pengalaman gerakan teologi pembebasan di negeri yang mayoritas penganut agama Kristen atau Katolik. Namun dari sini dapat pula dibuat perbandingan terhadap praktek teologi pembebasan pada agama lain, misalnya dengan mengacu pada pemikiran Asghar Ali Engineer atau Haji Misbach dalam Islam.

DATA BUKU
Judul Buku : Teologi Pembebasan – Kritik Marxisme & Marxisme Kritis
Penulis : Michael Löwy
Penerbit : INSISTpress, Yogyakarta
Tahun terbit : Cetakan ke-2, Maret 2013

“Teologi Pembebasan, Kritik Marxisme & Marxisme Kritis” adalah buku karya Michael Löwy, seorang intelektual Marxis yang pernah memenangkan penghargaan prestisius dari dunia akademis PrancisCentre National de la Recherche Scientifique (CNRS). Löwy melakukan kajian yang relatif lengkap mengenai topik ini dengan memaparkan aspek filosofis, konteks situasi sosial, dan aktor atau komponen yang terlibat di dalamnya.

Para pemikir
Pada bagian bagian awal, Löwy membahas pandangan tokoh-tokoh atau pemikir Marxis mengenai hal keagamaan. Di sini pemikiran tokoh-tokoh tersebut diulas satu per satu; mulai dari Karl Marx sendiri, Frederich Engels, Lenin, Kautsky, Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci, sampai dengan Lucien Goldman dan Ernst Bloch. Masing-masing dari mereka punya metode pendekatan sendiri terhadap keberadaan agama. Namun, pemikiran yang dinilai paling kontekstual dalam hubungan dengan teologi pembebasan adalah metode pendekatan yang digunakan oleh Goldman dan Bloch.
Baik Goldman maupun Bloch, menurut Lowy, menaruh minat dalam hal menyelamatkan nilai kemanusiaan dan moral dari tradisi agama. Bloch tidak bersepakat dengan pandangan sebagian kaum marxis yang memandang agama semata-mata sebagai “selubung bagi kepentingan kelas”. Bagi Bloch, dalam berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah “salah satu bentuk penting kesadaran utopia”, atau juga “salah satu ungkapan yang amat kaya tentang Asas Pengharapan”. Ini artinya agama telah memberikan pijakan sekaligus dorongan bagi perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Sementara itu Goldman, masih menurut Lowy, coba membandingkan—tanpa mencampuradukkan—antara iman agama dan kepercayaan Marxis: bahwa keduanya memiliki persaman menolak tegas individualisme murni (yang rasional maupun yang empiris), dan keduanya percaya pada nilai-nilai trans-individual—yakni Tuhan dalam ajaran agama dan masyarakat manusia dalam sosialisme.
Pada bab selanjutnya Lowy membuat defenisi tentang teologi pembebasan. Menurut Löwy, teologi pembebasan dapat dipandang sebagai “suatu gerakan”, “suatu doktrin”, dan “arus pada semua aras”. Sebagai gerakan, Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan telah ada sebagai pantulan pemikiran sekaligus cerminan dari keadaan nyata, suatu praxis yang sudah ada sebelum ada penulisan tentang teologi pembebasan itu sendiri. Sementara sebagai doktrin, buku ini menjabarkan beberapa ajaran dasar yang dapat ditemukan dalam tulisan para teolog pembebasan. Salah satu yang menarik dari doktrin tersebut adalah perlawanan atas pemberhalaan (jadi bukan ateisme) sebagai musuh utama agama—yakni menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun baru, Ceasar-Ceasar baru, dan Herodes-Herodes baru: Uang, Kekayaan, Kekuasaan, dan lain sejenisnya.
Keingintahuan pada asal-usul teologi pembebasan dapat terjawab pada bab ketiga. Di sini Löwycoba menjawab pertanyaan sebab munculnya teologi pembebasan yang mulai masif sebagai gerakan di tahun 1960-an. Terdapat dua pendapat para pakar sebelumnya yang dicantumkan Löwy. Pertama, yang melihat kemunculan gerakan ini sebagai “upaya gereja mempertahankan pengaruh” di kalangan rakyat (umat) miskin. Kedua, yang berpendapat bahwa lembaga gereja telah diambil-alih oleh rakyat miskin. Löwy mengkritik dua pendapat tersebut dan mengajukan pendapat sendiri. Bahwa gerakan ini muncul terutama karena adanya perubahan-perubahan di dalam maupun di luar gereja.

Konsep dan acuan berpikir
Bahwa gereja memiliki perhatian terhadap kaum miskin sama sekali bukan hal yang baru. Ini merujuk pada sejarah pendirian gereja sendiri, yang sudah berlangsung dua ribu tahun, yang pada awalnya lebih diterima oleh kaum miskin atau orang-orang yang tertindas. Tidak sedikit diantara para teolog pembebasan yang menginginkan agar gereja kembali ke khitah sebagai pembebas kaum tertindas. Mereka memberi perhatian penting pada bagian Kitab Keluaran “sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak”.
Dalam perjalanannya, gereja memang tetap memberi perhatian pada kaum miskin. Tapi pendekatan yang digunakan semata-mata bersifat kedermawanan atau cenderung paternalistik. Pendekatan ini yang ditentang dan diubah oleh teologi pembebasan. Salah satu doktrinnya menyebutkan:
“Orang-orang miskin tak boleh lagi terus-terusan menjadi sasaran kedermawanan, tetapi sebagai pelaku dari upaya pembebasan mereka sendiri. Bantuan atau pertolongan yang bersifat kebapakan harus digantikan dengan aksi kesetiakawanan bersama dalam perjuagan rakyat miskin untuk menentukan nasib sendiri.”
Oleh karena itu, Löwy menyimpulkan bahwa bagi para teolog pembebasan “Marxisme tampak sebagai suatu penjelasan yang sistematik, padat, dan menyeluruh mengenai sebab-sebab kemiskinan dan merupakan satu-satunya kesimpulan radikal yang memenuhi syarat untuk memberantas kemiskinan tersebut”.
Löwy tidak menampik adanya perbedaan-perbedaan antara marxisme dan teologi pembebasan. Sedikit di antaranya yang paling mendasar adalah soal-soal filsafat materialis, ideologi ateis, dan pemaknaan “agama sebagai candu rakyat”.Namun dalam banyak hal perbedaan tersebut lebih kepada perbedaan tafsir terhadap Marxisme. Bagi Gustavo Gutierrez, misalnya, Marxisme tidak semata menyediakan alat analisa ilmiah, tetapi juga suatu kehendak perubahan sosial yang utopis.
Ketika masuk ke dalam praxis politik, Löwy menilai apa yang dilakoni oleh para teolog pembebasan jauh lebih Marxis dibanding orang-orang yang mengklaim diri ‘Marxis murni’. Bahkan Löwy mempertanyakan kemampuan kaum ‘Marxis text-book’ dan ‘materialis kasar’ yang jauh ketinggalan dalam praxis dibandingkan para teolog pembebasan yang mampu membaca keadaan obyektifAmerika Latin sehingga membawa kemajuan luar biasa dalam gerakan sosial dan politik di Amerika Latin, termasuk dalam memenangkan revolusi Sandinista di Nicaragua.
Di sini disebutkan pula bahwa para filusuf teolog pembebasan cenderung mengecam pandangan kaum Marxis yang dinilai “terlalu ilmiah”, seperti Althusser. Mereka lebih tertarik pada “Marxisme Barat” yang sering disebut “Neo Marxisme” seperti Ernst Bloch. Namun tetap yang paling menginspirasi mereka adalah seorang Marxis Amerika Latin, Jose Carlos Mariategui, yang mengingatkan agar sosialisme di Amerika Latin tidak boleh menjadi suatu “tiruan murni” atau “salinan” saja dari pengalaman-pengalaman sosialisme yang sudah ada, tetapi lebih merupakkan suatu “hasil cipta perjuangan” sendiri. Bukankah ini mirip dengan pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Marhaenisme?

Para martir
Pada beberapa bagian dari buku ini pembaca dapat menemukan berbagai ulasan maupun kisah menarik seputar perjuangan politik rakyat yang melibatkan para uskup, pastor, suster, pendeta, tokoh agama, dan kaum awam. Nama-nama yang tidak asing lagi sebagai pentolan teologi pembebasan juga disebutkan dan secara singkat diulas di sini, seperti Gustavo Gutierrez, Frei Betto, uskup Dom Helder Camara, uskup Oscar Romero, dan lain-lain. Tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran melawan kekuasaan diktator atau ditangkap dan disiksa karena dukungan mereka terhadap gerakan politik.
Beberapa yang turut mengangkat senjata dan gugur dalam pertempuran melawan tentara diktator adalah Romo Camilo Torres di Kolombia dan Romo Gaspar Garcia Laviana di Nicaragua. Sementara banyak lain yang terbunuh karena aktifitas politiknya, seperti Romo Domingo Lain (1974), Romo Joao Bosco Penido Burnier (1976), Rutilio Grande (1977), dan Uskup Oscar Ramero (1980). Antara lain karena pengorbanan-pengorbanan ini sehingga Löwy menyimpulkan bahwa teologi pembebasan sama sekali bukan “siasat”atau “gerak tipu agamawan” menghadapi kemiskinan yang ada, melainkan suatu pemihakan rohani yang amat mendalam pada sebab-sebab perjuangan rakyat miskin.

Lenin dan Frei Betto
Di buku ini pula ada sebuah temuan menarik yang ingin saya bagikan secara khusus. Löwy secara tidak sengaja[?] mengambil dua kutipan dari dua orang yang berbeda dari rentang waktu yang juga berbeda, yakni Vladimir I. Lenin dan Frei Betto, seorang misionaris dari ordo Dominican. Dikisahkan suatu waktu Frei Betto ditangkap dan diinterogasi oleh seorang algojo rezim diktator yang terkenal bengis. Ia ditanya:
“Bagaimana seorang Kristen kok bisa bekerjasama dengan orang komunis?”
Betto menjawab:
“Bagi saya, manusia tidak dibedakan antara mereka yang beriman dan mereka yang ateis, tetapi dibagi antara mereka yang ditindas dan mereka yang menindas, antara mereka yang ingin mempertahankan tatanan masyarakat yang tidak adil ini dan mereka yang berjuang demi tegaknya keadilan.”
Kutipan ini menarik karena pada bagian awal buku telah diambil sebuah kutipan lain dari Lenin tentang agama yang dapat ditemukan benang merahnya sebagai berikut:
“…persatuan dalam perjuangan revolusioner yang nyata dari kelas tertindas demi mencapai suatu surga di muka bumi adalah jauh lebih pennting ketimbang kesatuan pendapat kaum proletar tentang surga yang akan datang nanti di akhirat.”
Bisa jadi Frei Betto terilhami oleh tulisan Lenin ketika menjawab pertanyaan sang algoju. Namun kesamaan pandangan ini setidaknya telah memperjelas suatu kedekatan yang begitu erat antara Marxisme dan Teologi Pembebasan. Tidak heran bila pada akhir tulisannya Löwybersepakat dengan banyak kalangan di Amerika Latin yang menyatakan bahwa hubungan antara gerakan Marxis dan Teologi Pembebasan bukan hanya sebatas taktis untuk memenangkan suatu pertempuran tertentu, tetapi sesuatu yang organik.
Akhirnya, menurut Löwy, beberapa hal yang perlu didiskusikan lebih lanjut antara teologi pembebasan dan Marxis bukan lagi dasar filosofis (idealis revolusioner dan materialisme dialektik), melainkan adalah pada soal-soal yang masih sensitif bagi kalangan gereja, seperti persoalan pengguguran kandungan, penggunaan alat kontrasepsi, dan peran atau posisi sosial perempuan secara lebih luas.
Pada akhirnya, buku berisi 155 halaman ini kaya akan berbagai ulasan lain terkait teologi pembebasan yang tentu saja tidak ditulis sepenuhnya dalam resensi ini. Selain itu terdapat suplemen sebuah risalah dari Frei Betto yang mengupas hubungan antara Teologi dan Marxisme.

Dominggus Oktavianus, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/33988-2/#ixzz43QDvxd3s
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Inisiatif

Oleh: Hasanudin Abdurakhman


Dalam beberapa rapat manajemen yang kami lakukan setiap bulan, sesekali kami berdiskusi tentang kondisi sumber daya manusia di perusahaan grup kami. Biasanya muncul keluhan orang-orang Jepang soal kualitas orang kita.
Kebetulan saya satu-satunya orang Indonesia dalam forum ini. Ini adalah forum yang anggotanya adalah para presiden direktur perusahaan grup kami (ada 12 perusahaan), ditambah direktur di perusahaan holding. Semua orang Jepang.
Salah satu hal yang mereka keluhkan adalah soal rendahnya inisiatif. “Shiji machi,” kata mereka. Artinya banyak orang yang hanya menunggu perintah, kalau tidak diperintah tidak bergerak. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya.
Orang seperti ini memang akan jadi beban organisasi. Seorang pemimpin tidak akan sanggup memikirkan segala aspek pekerjaan organisasinya sampai detil. Bawahannya harus mengambil inisiatif, menerjemahkan arah kebijakan pemimpin ke tingkat yang lebih detil dan mengeksekusinya.
Tanpa hal itu, semua beban pikiran akan bertumpu pada pemimpin seorang saja. Kalau sudah begini, organisasi tidak akan berjalan dengan baik.
Apa itu inisiatif? Kata ini berasal dari bahasa Inggris, to initiate, artinya memulai. Mengambil inisiatif artinya memulai suatu tindakan.
Dalam hal organisasi tindakan yang kita mulai bisa merupakan sesuatu yang sama sekali baru, tapi tidak harus selalu begitu. Inisiatif dalam pengertian yang kedua bisa bermakna sebagai penjabaran strategi/kebijakan yang sudah ada.
Bagaimana mengambil inisiatif? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami organisasi tempat kita bekerja, lalu memahami posisi dan peran kita dalam organisasi tersebut.
Mengambil inisiatif bukan berarti kita boleh asal bertindak, yang penting memulai sesuatu. Berinisiatif artinya bertindak selaras dengan tujuan organisasi, dan sesuai dengan fungsi dan wewenang kita.
Pengetahuan tentang organisasi serta peran kita akan memastikan tindakan yang kita mulai sesuai dengan kebutuhan, serta memberi kita panduan tentang batas yang tidak boleh kita lampaui.
Yang kedua adalah hal yang lebih teknis, yaitu memahami arahan dari pimpinan. Peran kita adalah menerjemahkan arahan itu menjadi tindakan-tindakan di lapangan. Inisiatif bermakna, kita menerjemahkannya menjadi rencana tindakan yang lebih detil serta mengeksekusinya.
Tapi inisiatif bisa pula bermakna bahwa kita memperpanjang garis vektor yang sudah digambarkan oleh pimpinan. Ingat, kita hanya memperpanjang garis itu, bukan membelokkannya ke arah lain.
Kita pun harus waspada, ada batas yang tidak boleh kita lewati. Jangan mememperpanjang garis terlalu jauh.
Bolehkah kita membelokkan arah garis kebijakan? Sampai di mana batas kita dalam menarik garis perpanjangan tadi? Dalam hal ini manajemen Jepang punya konsep yang disebut horenso.
Horenso adalah nama sayur, sejenis bayam. Tapi dalam hal ini horenso adalah singkatan, hokoku (lapor), renraku (kontak), sodan (konsultasi/diskusi). Boleh saja kita berinisiatif membelukkan arah garis kebijakan yang diberikan atasan kita, tapi kita perlu berkonsultasi dengan dia.
Kita juga harus tahu sampai di mana kita harus berhenti, atau di mana kita harus belok lagi. Dalam hal ini horenso, komunikasi dengan atasan, juga dengan anggota tim yang lain harus terus dilakukan.
 Ada beberapa sikap praktis yang bisa kita kembangkan untuk membangun inisiatif.
Terus bekerja dan berpikir untuk mencari solusi. Jangan pernah menyerah ketika usaha yang kita lakukan belum mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Hanya dengan mencoba melalui berbagai cara kita akan menjadi lebih kreatif dengan berbagai ide. Ingat, ide bisa menjadi kontribusi yang paling mahal bagi organisasi.
Biasakan untuk bekerja lebih. Ini terkait dengan memperpanjang garis vektor tadi. Biasakan untuk mengerjakan lebih dari garis arahan yang diberikan pada kita.
Berpikirlah sebagai anggota tim. Kita tidak bekerja sendiri dalam organisasi. Mengambil inisiatif bisa bermakna membaca posisi posisi sejawat, lalu kita menentukan tempat kita berdiri, untuk mengambil peran di situ. Persis seperti pemain sepak bola yang memilih tempat untuk menerima umpan, mengopernya kepada anggota tim lain, atau menendangnya ke gawang lawan.
Biasakan untuk berbagi gagasan dan berdiskusi. Berinisiatif bisa bermakna mempengaruhi orang lain untuk menuju pada suatu arah tertentu. Menyebarkan gagasan tentang apa yang akan atau sedang kita lakukan, mengajak orang melakukannya bersama, adalah hal penting. Bila ini berhasil dilakukan, maka kita akan mendapatkan energi yang lebih banyak untuk mewujudkannya.
Pertimbangkan setiap kesempatan. Solusi untuk berbagai masalah boleh jadi tersembunyi di berbagai tempat. Bila kita tidak mencoba, mungkin kita tidak akan pernah sampai kepada solusi tersebut.
Selalu menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga kita selalu siap untuk penugasan baru, atau menyelesaikan masalah baru.

Bertanggung jawablah. Selesaikan apa yang telah Anda mulai. Bertanggung jawablah terhadap hasilnya, baik atau buruk. Jangan hanya mengklaim bisa hasil baik, dan menghindar bila ternyata hasilnya buruk. Hasil buruk tidak perlu ditangisi, tapi harus dijadikan bahan evaluasi untuk berbuat lebih baik lagi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/15/140932626/Inisiatif

Minggu, 13 Maret 2016

Di Tengah Kebangkitan kembali Gerakan Massa

Pasca tumbangnya Soeharto, demonstrasi dan gerakan perlawanan massa berlangsung spontan di mana-mana. Demonstrasi, bahkan sampai tingkat yang sangat keras, telah diterima sampai lapisan masyarakat terbawah. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk melancarkan perlawanan terorganisir, massa rakyat tetap mempercayai (barangkali sampai tingkat beriman) bahwa gerakan massa adalah cara terampuh agar hak-hak mereka dapat dipertahankan. Justru di tengah membaranya gerakan massa spontan di tengah berbagai lapisan massa rakyat, gerakan massa terorganisir justru mengalami pembusukan. Hampir semua organisasi massa besar, yang menjelang tumbangnya Soeharto mengambil peran yang penting, kini malah hancur berantakan. Satu persatu para pimpinan gerakan massa itu saling berselisih. Mulailah terjadi pemecatan-pemecatan, atau split di tengah berbagai organisasi.
Walau begitu carut-marutnya wajah gerakan massa terorganisir di negeri ini, hukum dialektika tidak dapat ditolak atau dihentikan. Di mana ada perpecahan, di situ juga akan lahir persatuan. Satu persatu, berbagai elemen rakyat kini menemukan satu elan baru, nafas baru, semangat baru untuk bersatu. Berbagai aliansi dibangun dengan menjadikan konsolidasi jangka panjang sebagai salah satu tiang pokoknya. Berbagai upaya unifikasi dikerjakan – sekalipun hasilnya beraneka ragam dan belum ada yang dapat dikatakan mencatat keberhasilan yang telak.
Elan baru inilah yang sayang sekali kalau sampai gagal lagi menghasilkan perubahan nasib bagi massa rakyat tertindas di negeri ini. Maka semangat ini harus dijaga. Bukan dengan mengobar-ngobarkannya terus-menerus, malah bisa cepat kehabisan bahan bakar. Namun dengan memberinya arah berjalan yang tepat. Sebuah kobar api yang terus bergerak dan bertambah besar karena ia bergerak sesuai sebuah koridor, sebuah lorong, yang telah dipancangkan sebelumnya.
Pelajaran yang telah kita dapat dari gerakan massa yang dahulu sanggup menumbangkan Soeharto, namun kemudian membusuk dengan sendirinya pasca Sang Jenderal Tersenyum, adalah: kita harus memiliki tujuan yang jelas, kongkrit, membumi, terpikir dengan rinci dan mencakup segala segi kemasyarakatan. Gerakan massa harus memiliki bayangan yang kongkrit, seperti apa masyarakat yang diinginkannya. Seperti cetak biru bagi sebuah gedung megah. Tentu saja di tengah pembangunan gedung itu, cetak biru itu akan mengalami perubahan di sana-sini. Tapi, tanpa cetak biru itu, musahil gedung itu akan berdiri.
Yang mau saya katakan adalah: gerakan massa harus memilih ideologinya. Sebuah gambaran jelas mengenai masa datang, sebuah mimpi yang akan diupayakan dan diperjuangkan melalui darah dan air mata. Darah dan air mata, toh tiap hari kita tumpahkan karena kita ditindas – mengapa tidak kita tumpahkan dalam perjuangan. Tanpa idelogi yang jelas, tanpa tata-berpikir dan tata gerak yang runtut dan rapi terjalin, gerakan massa akan terus terjebak dalam pertikaian-pertikaian remeh yang aneh itu.
Tapi, bukan sembarang ideologi yang dapat kita pilih, melainkan ideologi yang jelas berpihak pada massa rakyat pekerja – ideologi yang akan menempatkan buruh, tani, nelayan dan sektor-sekor miskin perkotaan menjadi para pengambil keputusan tertinggi di negeri ini. Bukan pengusaha, bukan tentara, bukan birokrat, bukan pula ulama, yang seharusnya memegang kekuasaan atas negeri ini. Tapi, demos kratein, kekuasaan massa rakyat, harus berarti rakyat jelatalah yang memegang kekuasaan tertinggi atas segala aspek ekonomi, sosial-politik dan budaya di negerinya sendiri.
Kemudian, perlunya memperkuat organisasi sektoral baik dari tingkat lokal sampai ke nasional. Kekuatan organisasi nasional (serikat buruh, serikat tani, serikat nelayan, yang didukung didalamnya dengan keseimbangan perempuan) sangatlah penting. Karena selain persatuan, agar gerak dan langgam kerja terstruktur dari tingkat kekuasaan terendah sampai kepusat. Artinya harus ada kepemimpinan secara politik yang dapat berhadap-hadapan dengan kekuasaan di tingkat level manapun. Termasuk mempersiapkan dirinya (baca : kader) untuk siap duduk dalam kekuasaan. Organisasi rakyat harus dijadikan ruang untuk belajar politik yaitu dimulai dalam merumuskan cita-cita yang akan di capai, belajar demokrasi dan belajar tentang penguasaan ekonomi, sosial dan budaya. Disinilah penataan organisasi gerakan diuji, apakah akan mampu menata organisasinya atau tidak karena kalau tidak mampu tentunya akan terjadi kesemrawutan yang menghambat pada tahapan berikutnya.
Tentang kepemimpinan yang tidak boleh dilupakan oleh organisasi massa yang berbasis mahasiswa dan rakyat adalah dominasi kepemimpinan haruslah dari kelas tertindas itu sendiri. Yang terlatih dan teruji dalam disiplin, kolektifitas kerja dan yang meraskan ketertindasan langsung, tentunya sangat berbeda dengan borjuis kecil yang penuh dengan subyektifitas yang selama ini banyak terjangkit penyakit-penyakit gerakan. Hingga menghancurkan gerakan rakyat atau tidak mampu untuk mewujudkan cita-cita perjuangan sejati. Maka selain harus memberikan ruang dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang lahir dari massa, penempatan dan pembagian peran yaitu kolaborasi antara pemimpin yang berasal atau berbasis kelas tertindas dengan intelektual harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjebak pada dominasi yang tidak berpihak pada kelas tertindas.
Ketajaman analisa baik atas suatu kondisi (lokal – nasional – internasional) akan banyak menentukan, mempengaruhi kinerja dan kebijakan organisasi. Hal ini dibutuhkan dalam membaca momentum yang akan terus diciptakan oleh lawan (kelas pe,ilik modal dengan sistem dan kekuasaan) yang dapat kita pakai untuk mulai merajut menuju koalisi atau persatuan antar sektor.
Yang harus diingat, ketika terbentuk organisasi nasional sektoral yang kuat jangan sampai terjebak sektarian. Karena untuk mewujudkan cita-cita perjuangan tidaklah cukup dengan satu sektor saja, tetapi harus di pertemukan atau disatukanya organisasi rakyat (pemuda, buruh, tani, nelayan dan rakyat tertindas lainya) dalam satu koalisi menuju front. Dan menyatukan bukan berarti mengambil pemimpinnya atau memotong saja tetapi harus mau bekerja keras atau mempunyai modal organisasi yang berbasis massa besar dan kuat pula. Padu-nya antar sektor juga harus digarap mulai dari bawah keatas dan atau sebaliknya atau bukan sekedar perkawinan elit, agar benar-benar kokoh dan kuat. Jika ini terwujud berarti pembentukan alat politik (partai) dalam merebut kekuasaan dapat dengan mudah dilampaui.
Jika ini telah terwujud, gerakan massa tidak akan sia-sia. Energinya akan tercurah, dan pengorbanan yang dipersembahkannya kelak akan membuahkan kesejahteraan sejati bagi diri mereka sendiri yang selama ini ditindas, dihisap dan dikorbankan demi kemewahan kaum elit.

https://solindo.wordpress.com/2008/01/14/di-tengah-kebangkitan-kembali-gerakan-massa/

Jumat, 04 Maret 2016

Menulis untuk Penyembuhan Bangsa

  Oleh Pdt. Dr. Mery Kolimon


Tanggal 13 Oktober 2015. Saya bangun masih tengah malam. Jam 2 dini hari di Frankfurt, Jerman. Jam 8 pagi di Kupang. Pasti karena jet lag, saya sulit melanjutkan tidur. Mungkin juga karena sangat antusias dengan kesempatan yang saya dapat untuk bicara hari ini dalam konferensi yang diselenggarakan di Universitas Goethe Frankfurt. Saya benar-benar bersyukur diundang oleh panitia Frankfurt Book Fair (FBF) sebagai salah satu pembicara dalam konferensi dua hari itu.
Dalam konferensi terkait FBF tahun ini, perhatian diberikan kepada 70 tahun produksi tekstual di Indonesia. Saya diminta bicara dengan topik, “Menulis Kekerasan dan Trauma Politik”. Undangan itu terkait studi-studi dan publikasi yang dilakukan oleh perkumpulan kami, Jaringan Perempuan Indonesia untuk Studi Perempuan, Agama, dan Budaya (JPIT). Perkumpulan kami telah menerbitkan Memori-Memori Terlarang: Perempuan dan Penyintas Tragedi 1965 di NTT, pada tahun 2012 lalu, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Forbidden Memories: Women’s Experiences of 11965 in Eastern Indonesia, oleh Monash University Publishing. Versi bahasa Inggris buku itu akan diluncurkan akhir bulan ini di Ubud Writers Festival di Bali. Saya juga menulis feature hasil wawancara dengan ayah terkait keterlibatannya dalam Tragedi 65 di TTS dalam buku Breaking the Silence, yang disunting Pak Putu Oka Sukanta. Kini  JPIT juga sedang membuat penelitian tentang “Perempuan, Konflik, dan Perdamaian” di tiga daerah konflik. Kami mencoba menerbitkan hasil penelitian itu pada tahun depan.

Menulis sebagai Tindakan Politik
Buku “Memori-Memori Terlarang: Perempuan dan Penyintas Tragedi 1965 di NTT” (2012) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “Forbidden Memories: Women’s Experiences of 11965 in Eastern Indonesia”, oleh Monash University Publishing (2015). [ist]
Di konferensi itu, saya bicara beberapa hal. Pertama mengenai alasan menulis tentang kekerasan dan trauma politik gerakan anti komunis 1965. Periode itu adalah periode senyap dalam sejarah bangsa dan gereja di Indonesia. Kita masih bisa menemukan dokumen dari abad 18 dan 19 tentang sejarah gereja di Timor dan Sumba, namun hampir tak ada dokumen tertulis tentang periode itu. Masa itu menjadi sebuah lubang gelap. Kami membuat penelitian dan menulis dari perspektif para perempuan korban/penyintas tragedy itu untuk mengisi lubang hitam tersebut. Selain itu, bagi kami kekerasan politik 1965 bukan saja meninggalkan trauma bagi para korban dan penyintas tetapi bagi seluruh rakyat Indonesia. Kekerasan 1965 telah meninggalkan sebuah trauma kolektif bagi bangsa ini dan meninggalkan beban impunitas yang masih dipikul bangsa ini hingga sekarang. Alasan lain adalah bahwa kekerasan itu juga menandai identitas dan teologi gereja-gereja kita. Sebagai bagian dari bangsa, gereja menjadi bagian dari kekerasan dan trauma, dan mestinya juga menjadi bagian dari penyembuhan dan reparasi.

Menulis kekerasan dan trauma politik karena itu adalah seperti melawan hantu-hantu masa lalu yang menyakitkan dan membuka memori-memori terlarang. Menulis tentang itu adalah upaya untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perdamaian dengan masa lalu yang pahit dan adalah sebuah keberanian untuk membayangkan sebuah masa depan yang baru, sebuah masa depan yang ditandai oleh restorasi dan penyembuhan.
Menulis tentang Tragedi 1965, dalam masyarakat yang sangat dikuasai oleh master narrative negara yang sangat dominan dengan narasi tunggalnya, kami maksudkan sebagai sebuah alternatif untuk melihat dan memahami sejarah bangsa ini. Dengan menciptakan ruang bagi suara korban/penyintas, kami mempromosikan kesempatan untuk mendiskusikan apa yang terjadi di masa lalu, berdebat tentang dampaknya bagi gereja dan masyarakat, dan mendorong orang untuk berpikir tentang apa yang mestinya kita lakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Dengan begitu penulisan itu adalah juga sebuah tindakan politik: perjuangan bagi keadilan untuk semua, terutama bagi korban dan penyintas.

Penghargaan bagi Penulis Indonesia
Pembicara lain dalam panel bersama saya adalah Ayu Utami, aktifis jurnalis dan sastrawan Indonesia yang terkenal karena novel-novelnya, seperti Saman, Larung, Bilangan Fu, dan Si Parasit Lajang. Sebagian novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan mendapat sambutan yang sangat hangat di banyak negara. Bagi Ayu kekerasan politik tidak hanya menyakiti fisik dan dunia material, tetapi juga dunia simbolik kita. Itu sebabnya dalam novel-novelnya, dia banyak memakai simbol untuk melukiskan kekerasan yang terjadi. Bagi dia, semua kita punya tugas untuk belajar dari sejarah dan karena itu penulisan sejarah adalah penting.
Versi Bahasa Inggris dari "Memori-memori Terlarang" akan diluncurkan akhir bulan Oktober di Ubud Writers Ferstival. (web UWF)
Ketika ditanya mengapa dia menulis hal-hal yang sensitif, Ayu menjawab ia menulis hal yang sensitif bukan hanya untuk sekedar menulis isu sensitifitas itu sendiri, tetapi terutama karena itu berhubungan dengan ketidakaadilan dan hak asasi manusia. Jadi yang disentuh adalah masalah, bukan orang. Menulis isu sensitif membawa kita  bersentuhan dengan ketidaknyamanan. Namun itulah tugas penulis untuk mengalihkan masyarakat dari denial (penyangkalan) kepada consciousness (kesadaran) terhadap substansi sebuah masalah.
Buku-buku lain yang dibahas dalam konferensi itu adalah, di antaranya, Amba karya Laksmi Pamuntjak, dan Pulang, karya Leila S. Chudori. Para sastrawan memakai banyak cara untuk berbicara mengenai kekerasan dan trauma. Yang jelas, sejarah dan fiksi itu berbeda. Para novelis banyak kali mendasarkan tulisan mereka pada fakta sejarah, namun menggunakannya secara kreatif. Dengan cara itu pula mereka melawan pola master narrative negara yang monolitik dalam menulis dan menilai sejarah.

Tema dan buku lain yang dibahas nampak dalam ulasan terhadap karya Oka Rusmini, yang menggugat tradisi Bali dari perspektif feminis. Tiga novelnya yang dibahas adalah Tarian Bumi, Kenanga, dan Tempurung. Dalam ketiga novel itu, Oka Rusmini mengritik tradisi Bali yang memarjinalkan perempuan, sekaligus mengembangkan tafsir mengenai pemberdayaan dan pembebasan perempuan dalam peminggiran tersebut.
Sebuah presentasi menarik dibawakan oleh Dyah Ariani Arimbi dari Universitas Airlangga. Dia mengupas sisi yang lain sama sekali dari realitas tekstual Indonesia hari ini. Dosen Unair ini mengulas apa yang dia sebut sebagai hyper realitas di kalangan anak muda Indonesia di kota-kota besar. Dia menunjuk karya penulis yang dapat digolongkan di sini, yaitu Ika Natassa. Karyanya sangat menunjukkan hibriditas dari budaya metro pop. Bahasa yang dipakai campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Bahkan salah satu buku Ika berasal dari kumpulan twitter dia. Ini sebuah sisi lain dari realitas literatur Indonesia hari ini, yang justeru digandrungi oleh orang-orang muda.
Buku karya Laksmi Pamuntjak diiklan pada bus di Frankfurt Book Fair . [Credit: Hendra Suhendra via facebook]
Para pembicara lain dalam konferensi dua hari itu berasal dari berbagai negara. Saya mencatat guru besar dari Australia, Kanada, Jepang, Belanda, dan berbagai universitas di Jerman turut memberi ulasan, di berbagai sesi konferensi itu. Mereka mengapresiasi perkembangan literatur di Indonesia.

Konferensi ini mencatat hal yang membanggakan bagi saya. Seluruh pembiayaan untuk pembicara dari Indonesia dibiayai dari kas negara, dalam hal ini oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Kementerian yang dikomandani oleh pak Anies Baswedan ini membiayai transportasi domestik dan internasional, biaya penginapan, uang saku, dan asuransi perjalanan kami. Saya merasa terharu bahwa pemerintah bangsa kami mengakui pekerjaan-pekerjaan kami untuk penyembuhan dan pendidikan bangsa melalui dukungannya untuk kehadiran dan partisipasi kami di konferensi tersebut. Saya berharap akan semakin banyak penulis Indonesia, termasuk NTT, bersuara di panggung internasional. 

Sumber: http://satutimor.com/menulis-untuk-penyembuhan-bangsa.php

Mengapa Anjing Berputar Dulu Sebelum Duduk dan Tidur?

Anjing akan berputar satu atau dua putaran sebelum duduk atau tidur. Mengapa anjing melakukan kebiasan tersebut?
                         
Apakah kita pernah mengamati perilaku anjing sebelum ia duduk atau tidur? Anjing akan berputar satu atau dua putaran sebelum meletakkan dirinya. Mengapa anjing melakukan kebiasan tersebut?
Stanley Coren, seorang pengamat dan penulis buku mengenai anjing peliharaan asal Amerika Serikat menjelaskan perilaku umum dari anjing ini. Awalnya belum ada penjelasan ilmiah yang dapat menjelaskan mengapa perilaku berputar pada anjing tersebut bisa terjadi.
Berbagai spekulasi muncul mengapa perilaku ini menjadi kebiasaan anjing. Beberapa orang menyatakan bahwa anjing melakukan hal tersebut untuk menciptakan rasa aman pada dirinya. Mereka seolah memeriksa kondisi sekita untuk memastikan tidak ada bahaya sebelum mereka duduk.
Ada pula yang menyatakan kalau anjing berputar untuk mengusir kutu dan kotoran-kotoran keciln yang berkeliaran di tubuhnya. Ia merasa kurang nyaman jika ada yang melekat di tubuhnya saat tidur.
Sebuah pengamatan memberikan masukan yang paling masuk akal bahwa anjing melakukan hal itu dengan tujuan untuk menciptakan sarang kecil untuk dirinya sendiri dengan menginjak rumput atau karpet di mana ia akan tidur.
Kebanyakan anjing tidak nyaman berbaring di permukaan yang tidak rata. Eksperimen dilakukan pada 62 anjing peliharaan dengan mengamati perilakunya sebelum berbaring. Pengataman dilakukan dengan alas yang berbeda-beda. Dari tempat datar yang halus permukaannya, hingga yang menonjol dan berliku-liku. Hasilnya, pada permukaan yang halus, hanya satu dari lima anjing hanya berputar satu lingkaran penuh. Pada permukaan yang tidak rata hampir setengah dari 62 anjing yang melakukan gerakan berputar sebelum beristirahat.
Nah, jadi anjing berputar, bahkan cenderung menggali,dan menyodok pada permukaan yang tidak rata. Anjing-anjing berputar untuk membuat tempat alias sarang virtual yang membuatnya merasa aman. 

Kamis, 25 Februari 2016

Perbedaan Manajer dan Pemimpin


1. Manajer mengandalkan kontrol dan pemimpin membangun kepercayaan.
Manajer bertindak seperti bos dengan mengendalikan bawahan mereka, dan mengatur tugas-tugas administrasi. Di sisi lain, para pemimpin memberikan arahan, inovasi, dan menginspirasi. Mereka mengandalkan kepercayaan yang telah dibangun antara dirinya dan anggota tim untuk menjadi kekuatan, dan motivasi, sehingga d
Perbedaan Manajer dan Pemimpinapat meningkatkan produktivitas. Berbeda dengan manajer yang lebih mengutamakan kontrol dan mengatur dengan memainkan emosi takut.
2. Manajer menjaga fungsi organisasi, dan pemimpin membangun visi bersama.
Setiap organisasi membutuhkan manajer untuk memenuhi target perusahaan. Di sisi lain, pemimpin perlu memberikan perhatian pada karyawan supaya termotivasi dan terinspirasi. Para pemimpin bekerja dengan tim untuk membangun visi bersama, dan masa depan perusahaan. Manajer bekerja melalui sistem oprasional prosedur dan menjaga sistem tersebut berjalan dengan semestinya. Sedangkan para pemimpin memandang gambaran yang lebih besar seperti perubahan, dan masa depan perusahaan.
3. Manajer mengatur sistem, dan pemimpin memimpin orang-orang.
Menurut Anda apakah mengawasi pekerjaan perlu dilakukan? atau seseorang pempmim yang memimpin karyawannya bekerja ?
Para profesional tidak ingin diperlakukan seperti mesin. Mereka ingin berkolaborasi dan berinovasi, tidak diperlakukan seperti roda gigi dalam sebuah mesin. Bagi orang yang lahir pada rentang tahun 1980 -1995 atau bisa disebut generasi Y, perusahaan seperti Google dan Microsoft sangat ideal bagi mereka. perusahaan tersebut dikenal inovatif dan mereka memberikan kesempatan untuk pengembangan diri maupun karir. Perusahaan tersebut fokus pada karyawan dan ide-ide mereka, bukan pada daftar pekerjaan yang harus dilakukan. 

Selasa, 23 Februari 2016

Mengapa Tulisan Tangan Terus Berubah?













Tulisan tangan seseorang mengalami evolusi. Coba bandingkan tulisan tangan Anda bertahun-tahun silam dengan yang sekarang, pasti berbeda.

Tulisan tangan seseorang mengalami evolusi yang dapat terlihat dengan mudah. Coba saja perhatikan dan bandingkan tulisan tangan Anda bertahun-tahun silam dengan yang sekarang, pasti berbeda. Hal ini terbilang unik karena jika dianalisa dari ilmu Grafologi, tulisan tangan yang berubah mengungkap banyak hal. 
Pakar Grafologi, Deborah Dewi,  mengatakan, "Biasanya saya menemui ada dua, pertama si penulis merasa tulisannya berbeda, tapi sebenarnya polanya sama, atau yang kedua memiliki isu klinis seperti bipolar atau orang asing yang biasanya menulis kanji,".
Hal lainnya yang mempengaruhi perubahan tulisan tangan adalah suasana hati. Namun, Deborah menjelaskan,  indikatornya ada dua, yakni permanen dan temporer. 
"Kalau suasana hati berubah-ubah saat menulis maka termasuk temporer. Sementara itu, pola indikasi permanen  akan tetap sama," terangnya. 
Untuk itu, Debo mengingatkan, jam terbang yang tinggi lewat eye training atau latihan membaca tulisan tangan banyak orang, penting untuk mengindikasi pola-pola permanen dalam tulisan. 
Jangan lupa, sebelum membaca karakter lewat tulisan tangan, Debo menguraikan syarat syarat tulisan yang dapat dianalisis, yakn  posisi saat menulis nyaman, alas tulis datar, dan alat tulis memadai.

(Silvita Agmasari/Kompas.com)

Senin, 22 Februari 2016

Kata terakhir Mozart menggempakan Dunia

"Rasa dari kematian sudah ada di lidah saya. Saya merasakan sesuatu yang bukan dari dunia ini".
10175007_10201777027787406_2053385811837215110_n
    
Wolfgang Amadeus Mozart, atau lebih dikenal dengan nama Mozart, merupakan seorang komposer ternama dan berpengaruh pada era klasik, bahkan karyanya masih sering disebut-sebut hingga sekarang. Kematian dari Mozart sendiri masih diselimuti misteri dan menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Tetapi banyak yang mengatakan ia mati karena penyakit.
Sebelum meninggal, Mozart telah memiliki berbagai simtom dimana tangan dan kakinya akan membengkak, lalu perutnya sakit dan ia muntah. Beberapa orang mengatakan ia diracunia. 2 jam sebelum kematiannya, Mozart masih sadar dan ia mengeluarkan kata terakhir, "Rasa dari kematian sudah ada di lidah saya. Saya merasakan sesuatu yang bukan dari dunia ini."
Postingan Lama Beranda

Media Text

Media Text

Profil Text

Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.

 

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor

Flag Counter

Music Papua

Post Populer

 

Templates by Kidox Van Waikato | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger