Se Kalimat "Coretan Tinta Merah" Akan Mengukir Seribu Makna Dalam Segala Fenomena Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label ilustrasidanopini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasidanopini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Di Tengah Kebangkitan kembali Gerakan Massa

Pasca tumbangnya Soeharto, demonstrasi dan gerakan perlawanan massa berlangsung spontan di mana-mana. Demonstrasi, bahkan sampai tingkat yang sangat keras, telah diterima sampai lapisan masyarakat terbawah. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk melancarkan perlawanan terorganisir, massa rakyat tetap mempercayai (barangkali sampai tingkat beriman) bahwa gerakan massa adalah cara terampuh agar hak-hak mereka dapat dipertahankan. Justru di tengah membaranya gerakan massa spontan di tengah berbagai lapisan massa rakyat, gerakan massa terorganisir justru mengalami pembusukan. Hampir semua organisasi massa besar, yang menjelang tumbangnya Soeharto mengambil peran yang penting, kini malah hancur berantakan. Satu persatu para pimpinan gerakan massa itu saling berselisih. Mulailah terjadi pemecatan-pemecatan, atau split di tengah berbagai organisasi.
Walau begitu carut-marutnya wajah gerakan massa terorganisir di negeri ini, hukum dialektika tidak dapat ditolak atau dihentikan. Di mana ada perpecahan, di situ juga akan lahir persatuan. Satu persatu, berbagai elemen rakyat kini menemukan satu elan baru, nafas baru, semangat baru untuk bersatu. Berbagai aliansi dibangun dengan menjadikan konsolidasi jangka panjang sebagai salah satu tiang pokoknya. Berbagai upaya unifikasi dikerjakan – sekalipun hasilnya beraneka ragam dan belum ada yang dapat dikatakan mencatat keberhasilan yang telak.
Elan baru inilah yang sayang sekali kalau sampai gagal lagi menghasilkan perubahan nasib bagi massa rakyat tertindas di negeri ini. Maka semangat ini harus dijaga. Bukan dengan mengobar-ngobarkannya terus-menerus, malah bisa cepat kehabisan bahan bakar. Namun dengan memberinya arah berjalan yang tepat. Sebuah kobar api yang terus bergerak dan bertambah besar karena ia bergerak sesuai sebuah koridor, sebuah lorong, yang telah dipancangkan sebelumnya.
Pelajaran yang telah kita dapat dari gerakan massa yang dahulu sanggup menumbangkan Soeharto, namun kemudian membusuk dengan sendirinya pasca Sang Jenderal Tersenyum, adalah: kita harus memiliki tujuan yang jelas, kongkrit, membumi, terpikir dengan rinci dan mencakup segala segi kemasyarakatan. Gerakan massa harus memiliki bayangan yang kongkrit, seperti apa masyarakat yang diinginkannya. Seperti cetak biru bagi sebuah gedung megah. Tentu saja di tengah pembangunan gedung itu, cetak biru itu akan mengalami perubahan di sana-sini. Tapi, tanpa cetak biru itu, musahil gedung itu akan berdiri.
Yang mau saya katakan adalah: gerakan massa harus memilih ideologinya. Sebuah gambaran jelas mengenai masa datang, sebuah mimpi yang akan diupayakan dan diperjuangkan melalui darah dan air mata. Darah dan air mata, toh tiap hari kita tumpahkan karena kita ditindas – mengapa tidak kita tumpahkan dalam perjuangan. Tanpa idelogi yang jelas, tanpa tata-berpikir dan tata gerak yang runtut dan rapi terjalin, gerakan massa akan terus terjebak dalam pertikaian-pertikaian remeh yang aneh itu.
Tapi, bukan sembarang ideologi yang dapat kita pilih, melainkan ideologi yang jelas berpihak pada massa rakyat pekerja – ideologi yang akan menempatkan buruh, tani, nelayan dan sektor-sekor miskin perkotaan menjadi para pengambil keputusan tertinggi di negeri ini. Bukan pengusaha, bukan tentara, bukan birokrat, bukan pula ulama, yang seharusnya memegang kekuasaan atas negeri ini. Tapi, demos kratein, kekuasaan massa rakyat, harus berarti rakyat jelatalah yang memegang kekuasaan tertinggi atas segala aspek ekonomi, sosial-politik dan budaya di negerinya sendiri.
Kemudian, perlunya memperkuat organisasi sektoral baik dari tingkat lokal sampai ke nasional. Kekuatan organisasi nasional (serikat buruh, serikat tani, serikat nelayan, yang didukung didalamnya dengan keseimbangan perempuan) sangatlah penting. Karena selain persatuan, agar gerak dan langgam kerja terstruktur dari tingkat kekuasaan terendah sampai kepusat. Artinya harus ada kepemimpinan secara politik yang dapat berhadap-hadapan dengan kekuasaan di tingkat level manapun. Termasuk mempersiapkan dirinya (baca : kader) untuk siap duduk dalam kekuasaan. Organisasi rakyat harus dijadikan ruang untuk belajar politik yaitu dimulai dalam merumuskan cita-cita yang akan di capai, belajar demokrasi dan belajar tentang penguasaan ekonomi, sosial dan budaya. Disinilah penataan organisasi gerakan diuji, apakah akan mampu menata organisasinya atau tidak karena kalau tidak mampu tentunya akan terjadi kesemrawutan yang menghambat pada tahapan berikutnya.
Tentang kepemimpinan yang tidak boleh dilupakan oleh organisasi massa yang berbasis mahasiswa dan rakyat adalah dominasi kepemimpinan haruslah dari kelas tertindas itu sendiri. Yang terlatih dan teruji dalam disiplin, kolektifitas kerja dan yang meraskan ketertindasan langsung, tentunya sangat berbeda dengan borjuis kecil yang penuh dengan subyektifitas yang selama ini banyak terjangkit penyakit-penyakit gerakan. Hingga menghancurkan gerakan rakyat atau tidak mampu untuk mewujudkan cita-cita perjuangan sejati. Maka selain harus memberikan ruang dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang lahir dari massa, penempatan dan pembagian peran yaitu kolaborasi antara pemimpin yang berasal atau berbasis kelas tertindas dengan intelektual harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjebak pada dominasi yang tidak berpihak pada kelas tertindas.
Ketajaman analisa baik atas suatu kondisi (lokal – nasional – internasional) akan banyak menentukan, mempengaruhi kinerja dan kebijakan organisasi. Hal ini dibutuhkan dalam membaca momentum yang akan terus diciptakan oleh lawan (kelas pe,ilik modal dengan sistem dan kekuasaan) yang dapat kita pakai untuk mulai merajut menuju koalisi atau persatuan antar sektor.
Yang harus diingat, ketika terbentuk organisasi nasional sektoral yang kuat jangan sampai terjebak sektarian. Karena untuk mewujudkan cita-cita perjuangan tidaklah cukup dengan satu sektor saja, tetapi harus di pertemukan atau disatukanya organisasi rakyat (pemuda, buruh, tani, nelayan dan rakyat tertindas lainya) dalam satu koalisi menuju front. Dan menyatukan bukan berarti mengambil pemimpinnya atau memotong saja tetapi harus mau bekerja keras atau mempunyai modal organisasi yang berbasis massa besar dan kuat pula. Padu-nya antar sektor juga harus digarap mulai dari bawah keatas dan atau sebaliknya atau bukan sekedar perkawinan elit, agar benar-benar kokoh dan kuat. Jika ini terwujud berarti pembentukan alat politik (partai) dalam merebut kekuasaan dapat dengan mudah dilampaui.
Jika ini telah terwujud, gerakan massa tidak akan sia-sia. Energinya akan tercurah, dan pengorbanan yang dipersembahkannya kelak akan membuahkan kesejahteraan sejati bagi diri mereka sendiri yang selama ini ditindas, dihisap dan dikorbankan demi kemewahan kaum elit.

https://solindo.wordpress.com/2008/01/14/di-tengah-kebangkitan-kembali-gerakan-massa/

Jumat, 04 Maret 2016

Menulis untuk Penyembuhan Bangsa

  Oleh Pdt. Dr. Mery Kolimon


Tanggal 13 Oktober 2015. Saya bangun masih tengah malam. Jam 2 dini hari di Frankfurt, Jerman. Jam 8 pagi di Kupang. Pasti karena jet lag, saya sulit melanjutkan tidur. Mungkin juga karena sangat antusias dengan kesempatan yang saya dapat untuk bicara hari ini dalam konferensi yang diselenggarakan di Universitas Goethe Frankfurt. Saya benar-benar bersyukur diundang oleh panitia Frankfurt Book Fair (FBF) sebagai salah satu pembicara dalam konferensi dua hari itu.
Dalam konferensi terkait FBF tahun ini, perhatian diberikan kepada 70 tahun produksi tekstual di Indonesia. Saya diminta bicara dengan topik, “Menulis Kekerasan dan Trauma Politik”. Undangan itu terkait studi-studi dan publikasi yang dilakukan oleh perkumpulan kami, Jaringan Perempuan Indonesia untuk Studi Perempuan, Agama, dan Budaya (JPIT). Perkumpulan kami telah menerbitkan Memori-Memori Terlarang: Perempuan dan Penyintas Tragedi 1965 di NTT, pada tahun 2012 lalu, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Forbidden Memories: Women’s Experiences of 11965 in Eastern Indonesia, oleh Monash University Publishing. Versi bahasa Inggris buku itu akan diluncurkan akhir bulan ini di Ubud Writers Festival di Bali. Saya juga menulis feature hasil wawancara dengan ayah terkait keterlibatannya dalam Tragedi 65 di TTS dalam buku Breaking the Silence, yang disunting Pak Putu Oka Sukanta. Kini  JPIT juga sedang membuat penelitian tentang “Perempuan, Konflik, dan Perdamaian” di tiga daerah konflik. Kami mencoba menerbitkan hasil penelitian itu pada tahun depan.

Menulis sebagai Tindakan Politik
Buku “Memori-Memori Terlarang: Perempuan dan Penyintas Tragedi 1965 di NTT” (2012) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “Forbidden Memories: Women’s Experiences of 11965 in Eastern Indonesia”, oleh Monash University Publishing (2015). [ist]
Di konferensi itu, saya bicara beberapa hal. Pertama mengenai alasan menulis tentang kekerasan dan trauma politik gerakan anti komunis 1965. Periode itu adalah periode senyap dalam sejarah bangsa dan gereja di Indonesia. Kita masih bisa menemukan dokumen dari abad 18 dan 19 tentang sejarah gereja di Timor dan Sumba, namun hampir tak ada dokumen tertulis tentang periode itu. Masa itu menjadi sebuah lubang gelap. Kami membuat penelitian dan menulis dari perspektif para perempuan korban/penyintas tragedy itu untuk mengisi lubang hitam tersebut. Selain itu, bagi kami kekerasan politik 1965 bukan saja meninggalkan trauma bagi para korban dan penyintas tetapi bagi seluruh rakyat Indonesia. Kekerasan 1965 telah meninggalkan sebuah trauma kolektif bagi bangsa ini dan meninggalkan beban impunitas yang masih dipikul bangsa ini hingga sekarang. Alasan lain adalah bahwa kekerasan itu juga menandai identitas dan teologi gereja-gereja kita. Sebagai bagian dari bangsa, gereja menjadi bagian dari kekerasan dan trauma, dan mestinya juga menjadi bagian dari penyembuhan dan reparasi.

Menulis kekerasan dan trauma politik karena itu adalah seperti melawan hantu-hantu masa lalu yang menyakitkan dan membuka memori-memori terlarang. Menulis tentang itu adalah upaya untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perdamaian dengan masa lalu yang pahit dan adalah sebuah keberanian untuk membayangkan sebuah masa depan yang baru, sebuah masa depan yang ditandai oleh restorasi dan penyembuhan.
Menulis tentang Tragedi 1965, dalam masyarakat yang sangat dikuasai oleh master narrative negara yang sangat dominan dengan narasi tunggalnya, kami maksudkan sebagai sebuah alternatif untuk melihat dan memahami sejarah bangsa ini. Dengan menciptakan ruang bagi suara korban/penyintas, kami mempromosikan kesempatan untuk mendiskusikan apa yang terjadi di masa lalu, berdebat tentang dampaknya bagi gereja dan masyarakat, dan mendorong orang untuk berpikir tentang apa yang mestinya kita lakukan untuk penyembuhan dan pemulihan. Dengan begitu penulisan itu adalah juga sebuah tindakan politik: perjuangan bagi keadilan untuk semua, terutama bagi korban dan penyintas.

Penghargaan bagi Penulis Indonesia
Pembicara lain dalam panel bersama saya adalah Ayu Utami, aktifis jurnalis dan sastrawan Indonesia yang terkenal karena novel-novelnya, seperti Saman, Larung, Bilangan Fu, dan Si Parasit Lajang. Sebagian novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan mendapat sambutan yang sangat hangat di banyak negara. Bagi Ayu kekerasan politik tidak hanya menyakiti fisik dan dunia material, tetapi juga dunia simbolik kita. Itu sebabnya dalam novel-novelnya, dia banyak memakai simbol untuk melukiskan kekerasan yang terjadi. Bagi dia, semua kita punya tugas untuk belajar dari sejarah dan karena itu penulisan sejarah adalah penting.
Versi Bahasa Inggris dari "Memori-memori Terlarang" akan diluncurkan akhir bulan Oktober di Ubud Writers Ferstival. (web UWF)
Ketika ditanya mengapa dia menulis hal-hal yang sensitif, Ayu menjawab ia menulis hal yang sensitif bukan hanya untuk sekedar menulis isu sensitifitas itu sendiri, tetapi terutama karena itu berhubungan dengan ketidakaadilan dan hak asasi manusia. Jadi yang disentuh adalah masalah, bukan orang. Menulis isu sensitif membawa kita  bersentuhan dengan ketidaknyamanan. Namun itulah tugas penulis untuk mengalihkan masyarakat dari denial (penyangkalan) kepada consciousness (kesadaran) terhadap substansi sebuah masalah.
Buku-buku lain yang dibahas dalam konferensi itu adalah, di antaranya, Amba karya Laksmi Pamuntjak, dan Pulang, karya Leila S. Chudori. Para sastrawan memakai banyak cara untuk berbicara mengenai kekerasan dan trauma. Yang jelas, sejarah dan fiksi itu berbeda. Para novelis banyak kali mendasarkan tulisan mereka pada fakta sejarah, namun menggunakannya secara kreatif. Dengan cara itu pula mereka melawan pola master narrative negara yang monolitik dalam menulis dan menilai sejarah.

Tema dan buku lain yang dibahas nampak dalam ulasan terhadap karya Oka Rusmini, yang menggugat tradisi Bali dari perspektif feminis. Tiga novelnya yang dibahas adalah Tarian Bumi, Kenanga, dan Tempurung. Dalam ketiga novel itu, Oka Rusmini mengritik tradisi Bali yang memarjinalkan perempuan, sekaligus mengembangkan tafsir mengenai pemberdayaan dan pembebasan perempuan dalam peminggiran tersebut.
Sebuah presentasi menarik dibawakan oleh Dyah Ariani Arimbi dari Universitas Airlangga. Dia mengupas sisi yang lain sama sekali dari realitas tekstual Indonesia hari ini. Dosen Unair ini mengulas apa yang dia sebut sebagai hyper realitas di kalangan anak muda Indonesia di kota-kota besar. Dia menunjuk karya penulis yang dapat digolongkan di sini, yaitu Ika Natassa. Karyanya sangat menunjukkan hibriditas dari budaya metro pop. Bahasa yang dipakai campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Bahkan salah satu buku Ika berasal dari kumpulan twitter dia. Ini sebuah sisi lain dari realitas literatur Indonesia hari ini, yang justeru digandrungi oleh orang-orang muda.
Buku karya Laksmi Pamuntjak diiklan pada bus di Frankfurt Book Fair . [Credit: Hendra Suhendra via facebook]
Para pembicara lain dalam konferensi dua hari itu berasal dari berbagai negara. Saya mencatat guru besar dari Australia, Kanada, Jepang, Belanda, dan berbagai universitas di Jerman turut memberi ulasan, di berbagai sesi konferensi itu. Mereka mengapresiasi perkembangan literatur di Indonesia.

Konferensi ini mencatat hal yang membanggakan bagi saya. Seluruh pembiayaan untuk pembicara dari Indonesia dibiayai dari kas negara, dalam hal ini oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Kementerian yang dikomandani oleh pak Anies Baswedan ini membiayai transportasi domestik dan internasional, biaya penginapan, uang saku, dan asuransi perjalanan kami. Saya merasa terharu bahwa pemerintah bangsa kami mengakui pekerjaan-pekerjaan kami untuk penyembuhan dan pendidikan bangsa melalui dukungannya untuk kehadiran dan partisipasi kami di konferensi tersebut. Saya berharap akan semakin banyak penulis Indonesia, termasuk NTT, bersuara di panggung internasional. 

Sumber: http://satutimor.com/menulis-untuk-penyembuhan-bangsa.php

Mengapa Anjing Berputar Dulu Sebelum Duduk dan Tidur?

Anjing akan berputar satu atau dua putaran sebelum duduk atau tidur. Mengapa anjing melakukan kebiasan tersebut?
                         
Apakah kita pernah mengamati perilaku anjing sebelum ia duduk atau tidur? Anjing akan berputar satu atau dua putaran sebelum meletakkan dirinya. Mengapa anjing melakukan kebiasan tersebut?
Stanley Coren, seorang pengamat dan penulis buku mengenai anjing peliharaan asal Amerika Serikat menjelaskan perilaku umum dari anjing ini. Awalnya belum ada penjelasan ilmiah yang dapat menjelaskan mengapa perilaku berputar pada anjing tersebut bisa terjadi.
Berbagai spekulasi muncul mengapa perilaku ini menjadi kebiasaan anjing. Beberapa orang menyatakan bahwa anjing melakukan hal tersebut untuk menciptakan rasa aman pada dirinya. Mereka seolah memeriksa kondisi sekita untuk memastikan tidak ada bahaya sebelum mereka duduk.
Ada pula yang menyatakan kalau anjing berputar untuk mengusir kutu dan kotoran-kotoran keciln yang berkeliaran di tubuhnya. Ia merasa kurang nyaman jika ada yang melekat di tubuhnya saat tidur.
Sebuah pengamatan memberikan masukan yang paling masuk akal bahwa anjing melakukan hal itu dengan tujuan untuk menciptakan sarang kecil untuk dirinya sendiri dengan menginjak rumput atau karpet di mana ia akan tidur.
Kebanyakan anjing tidak nyaman berbaring di permukaan yang tidak rata. Eksperimen dilakukan pada 62 anjing peliharaan dengan mengamati perilakunya sebelum berbaring. Pengataman dilakukan dengan alas yang berbeda-beda. Dari tempat datar yang halus permukaannya, hingga yang menonjol dan berliku-liku. Hasilnya, pada permukaan yang halus, hanya satu dari lima anjing hanya berputar satu lingkaran penuh. Pada permukaan yang tidak rata hampir setengah dari 62 anjing yang melakukan gerakan berputar sebelum beristirahat.
Nah, jadi anjing berputar, bahkan cenderung menggali,dan menyodok pada permukaan yang tidak rata. Anjing-anjing berputar untuk membuat tempat alias sarang virtual yang membuatnya merasa aman. 

Kamis, 25 Februari 2016

Perbedaan Manajer dan Pemimpin


1. Manajer mengandalkan kontrol dan pemimpin membangun kepercayaan.
Manajer bertindak seperti bos dengan mengendalikan bawahan mereka, dan mengatur tugas-tugas administrasi. Di sisi lain, para pemimpin memberikan arahan, inovasi, dan menginspirasi. Mereka mengandalkan kepercayaan yang telah dibangun antara dirinya dan anggota tim untuk menjadi kekuatan, dan motivasi, sehingga d
Perbedaan Manajer dan Pemimpinapat meningkatkan produktivitas. Berbeda dengan manajer yang lebih mengutamakan kontrol dan mengatur dengan memainkan emosi takut.
2. Manajer menjaga fungsi organisasi, dan pemimpin membangun visi bersama.
Setiap organisasi membutuhkan manajer untuk memenuhi target perusahaan. Di sisi lain, pemimpin perlu memberikan perhatian pada karyawan supaya termotivasi dan terinspirasi. Para pemimpin bekerja dengan tim untuk membangun visi bersama, dan masa depan perusahaan. Manajer bekerja melalui sistem oprasional prosedur dan menjaga sistem tersebut berjalan dengan semestinya. Sedangkan para pemimpin memandang gambaran yang lebih besar seperti perubahan, dan masa depan perusahaan.
3. Manajer mengatur sistem, dan pemimpin memimpin orang-orang.
Menurut Anda apakah mengawasi pekerjaan perlu dilakukan? atau seseorang pempmim yang memimpin karyawannya bekerja ?
Para profesional tidak ingin diperlakukan seperti mesin. Mereka ingin berkolaborasi dan berinovasi, tidak diperlakukan seperti roda gigi dalam sebuah mesin. Bagi orang yang lahir pada rentang tahun 1980 -1995 atau bisa disebut generasi Y, perusahaan seperti Google dan Microsoft sangat ideal bagi mereka. perusahaan tersebut dikenal inovatif dan mereka memberikan kesempatan untuk pengembangan diri maupun karir. Perusahaan tersebut fokus pada karyawan dan ide-ide mereka, bukan pada daftar pekerjaan yang harus dilakukan. 

Selasa, 23 Februari 2016

Mengapa Tulisan Tangan Terus Berubah?













Tulisan tangan seseorang mengalami evolusi. Coba bandingkan tulisan tangan Anda bertahun-tahun silam dengan yang sekarang, pasti berbeda.

Tulisan tangan seseorang mengalami evolusi yang dapat terlihat dengan mudah. Coba saja perhatikan dan bandingkan tulisan tangan Anda bertahun-tahun silam dengan yang sekarang, pasti berbeda. Hal ini terbilang unik karena jika dianalisa dari ilmu Grafologi, tulisan tangan yang berubah mengungkap banyak hal. 
Pakar Grafologi, Deborah Dewi,  mengatakan, "Biasanya saya menemui ada dua, pertama si penulis merasa tulisannya berbeda, tapi sebenarnya polanya sama, atau yang kedua memiliki isu klinis seperti bipolar atau orang asing yang biasanya menulis kanji,".
Hal lainnya yang mempengaruhi perubahan tulisan tangan adalah suasana hati. Namun, Deborah menjelaskan,  indikatornya ada dua, yakni permanen dan temporer. 
"Kalau suasana hati berubah-ubah saat menulis maka termasuk temporer. Sementara itu, pola indikasi permanen  akan tetap sama," terangnya. 
Untuk itu, Debo mengingatkan, jam terbang yang tinggi lewat eye training atau latihan membaca tulisan tangan banyak orang, penting untuk mengindikasi pola-pola permanen dalam tulisan. 
Jangan lupa, sebelum membaca karakter lewat tulisan tangan, Debo menguraikan syarat syarat tulisan yang dapat dianalisis, yakn  posisi saat menulis nyaman, alas tulis datar, dan alat tulis memadai.

(Silvita Agmasari/Kompas.com)

Senin, 22 Februari 2016

Kata terakhir Mozart menggempakan Dunia

"Rasa dari kematian sudah ada di lidah saya. Saya merasakan sesuatu yang bukan dari dunia ini".
10175007_10201777027787406_2053385811837215110_n
    
Wolfgang Amadeus Mozart, atau lebih dikenal dengan nama Mozart, merupakan seorang komposer ternama dan berpengaruh pada era klasik, bahkan karyanya masih sering disebut-sebut hingga sekarang. Kematian dari Mozart sendiri masih diselimuti misteri dan menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Tetapi banyak yang mengatakan ia mati karena penyakit.
Sebelum meninggal, Mozart telah memiliki berbagai simtom dimana tangan dan kakinya akan membengkak, lalu perutnya sakit dan ia muntah. Beberapa orang mengatakan ia diracunia. 2 jam sebelum kematiannya, Mozart masih sadar dan ia mengeluarkan kata terakhir, "Rasa dari kematian sudah ada di lidah saya. Saya merasakan sesuatu yang bukan dari dunia ini."
Postingan Lama Beranda

Media Text

Media Text

Profil Text

Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.

 

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor

Flag Counter

Music Papua

Post Populer

 

Templates by Kidox Van Waikato | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger